Skip to main content

Posts

17

  London, Inggris. Satu Minggu Setelah Konfirmasi Kematian Adrian. Kantin Rumah Sakit Swasta. Pukul 16.47. William Hayes , yang baru saja tiba di London pagi ini, duduk dengan tenang di sebuah meja sudut kantin rumah sakit swasta tempat Ayahnya bekerja. Penampilan William sangat disengaja dan memikat: ia mengenakan setelan kasual yang mencolok dan mahal, sebuah  bomber jacket  kulit domba berwarna hitam dengan ritsleting perak minimalis, dipadukan dengan kaus leher V berbahan sutra berwarna abu-abu gelap. Celana panjang  tailored fit  berwarna senada, dan sepatu  loafer  kulit Italia tanpa kaus kaki menyempurnakan penampilannya. William terlihat benar-benar menawan. Wajahnya yang tampan, tubuh tinggi, dan sikap tenangnya menciptakan daya tarik tersendiri. Penampilannya yang terlalu trendi sangat kontras dengan suasana kantin yang dipenuhi wajah-wajah lelah dan panik di jam pulang kerja. William tiba di London sekitar pukul 10 pagi. Setelah mendarat, ia...

16

Boston, Massachusetts. Awal Oktober. Pukul 17.00. Hakim  George  menyelesaikan tugas-tugas terakhirnya. Ruangan pribadinya di gedung pengadilan tua Boston terasa mencekam, dinding yang biasanya memberinya rasa aman kini terasa menekan. George, seorang pria yang hidupnya diatur oleh preseden dan hukum, merasa fondasi realitasnya mulai retak. Di mejanya, dengan tumpukan kertas menumpuk, ada sebuah kotak paket yang baru dia terima dan buka. Saat membuka paket itu yang ditemukan George adalah setumpuk foto dan sebuah kotak hitam kecil. George penasaran dan membuka kotak itu dan ternyata berisi  flash drive . George penasaran mengambil setumpuk foto itu dan saat dia melihat gambar di foto George sangat terkejut. Dia meletakkan kembali foto itu di kotak dan kembali ke pintu untuk mengunci pintu. Setelah dirasa aman, George kembali melihat foto. Foto-foto itu menunjukkan  Adrian Vance  yang angkuh, yang George kenal sebagai manipulator terlicin yang pernah ia tangani, ...

15

  Adrian terbangun bukan karena rasa sakit yang tajam, melainkan karena sensasi dingin yang begitu menusuk hingga terasa seperti pecahan es yang merayap ke sumsum tulang. Dingin itu bukan hanya suhu melampiaskan  perampasan kehangatan yang kejam, sebuah pengingat bahwa ia tidak lagi memiliki kendali atas lingkungan atau tubuhnya. Ia terikat erat ke kursi besi yang terasa menjijikkan di tengah ruangan yang gelap, lembap, dan penuh bau anyir. Udara di sekelilingnya berat, berbau campuran karat, disinfektan murah, dan ruang yang sangat minim cahaya, mengingatkan pada rumah jagal yang ditinggalkan. "Cih, menjijikkan," gumam Adrian, membiarkan arogansinya menjadi tameng terakhir. Ia mencoba menggerakkan bahunya, tetapi rantai baja di pergelangan tangan dan kakinya menahannya tanpa ampun. Tubuhnya masih menyimpan sisa-sisa kelelahan dan kerusakan dari dua hari bersama William. Ia merasa seperti kain usang yang siap disobek.  Jujur saja, Adrian sangat lelah. Ia hanya sempat tidu...

14

  Dua hari. Waktu terasa seperti sirup yang kental dan menjijikkan, mengalir lambat dan mengikat Adrian dalam keadaan macet yang menyiksa. Dua hari penuh Adrian memenuhi nafsu anak muda itu. Lian tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Dia adalah mesin yang sempurna, dingin, dan menuntut. William menggunakan obat penenang dalam dosis yang sangat hati-hati, cukup untuk melumpuhkan otot Adrian, membuatnya tidak berdaya untuk melawan atau bahkan menolak, namun cukup jernih agar Adrian tetap sadar sepenuhnya, kualifikasi setiap detik penghinaan. Rasa sakit fisik adalah hal yang Adrian anggap remeh, tetapi rasa sakit ini ternyata begitu menyiksa tubuh yang rapuh. "Ayah tahu," bisik Lian saat itu, suaranya parau karena hasrat yang masih membara, "aku sangat menyukai hal ini. Ini sangat menarik, bahkan lebih menarik dari pelajaran Ayah dulu. Ayo senyum, Ayah, kamu biasanya sangat bangga denganku." Lian merengek manja, dan Adrian merasa ingin mengisi isi perut saat itu jug...