Adrian terbangun bukan karena rasa sakit yang tajam, melainkan karena sensasi dingin yang begitu menusuk hingga terasa seperti pecahan es yang merayap ke sumsum tulang. Dingin itu bukan hanya suhu melampiaskan perampasan kehangatan yang kejam, sebuah pengingat bahwa ia tidak lagi memiliki kendali atas lingkungan atau tubuhnya. Ia terikat erat ke kursi besi yang terasa menjijikkan di tengah ruangan yang gelap, lembap, dan penuh bau anyir.
Udara di sekelilingnya berat, berbau campuran karat, disinfektan murah, dan ruang yang sangat minim cahaya, mengingatkan pada rumah jagal yang ditinggalkan.
"Cih, menjijikkan," gumam Adrian, membiarkan arogansinya menjadi tameng terakhir. Ia mencoba menggerakkan bahunya, tetapi rantai baja di pergelangan tangan dan kakinya menahannya tanpa ampun. Tubuhnya masih menyimpan sisa-sisa kelelahan dan kerusakan dari dua hari bersama William. Ia merasa seperti kain usang yang siap disobek.
Jujur saja, Adrian sangat lelah. Ia hanya sempat tidur selama satu jam, setelah pelarian yang panjang, dan sekarang ia sudah diculik lagi. Rasa lelah fisik itu kini berlipat ganda, menjadikannya mangsa yang sempurna.
Ia menoleh. Tiga sosok tegap berpakaian serba gelap berdiri di sudut, diam seperti bayangan. Bukan setelan mahal yang rapi, melainkan jaket kulit tebal dan topeng balaclava. Mereka tampak anonim dan brutal, benar-benar seperti anjing penjaga yang hanya menuruti perintah tuan mereka tanpa berpikir.
"Siapa kalian?" tanyanya, suaranya parau, bergema di ruang sempit. Ia sudah terlalu lelah untuk berteriak.
Tidak ada jawaban. Salah satu pria, yang paling tinggi dan bertubuh tegap, mendekat. Dia membawa ear-muff yang dimodifikasi, tampak sangat teknis dan mengerikan, dan memasangkannya di kepala Adrian. Alat itu terasa dingin dan tebal, mengisolasi Adrian dari suara luar.
"Kami bukan di sini untuk bicara, sialan. Lebih baik diam dan buang arogansimu itu," ujar pria itu dengan nada bosan. Ia menatap Adrian dari balik lubang mata topengnya, tatapan yang datar dan menghakimi.
"Nikmati permainan ini. Itu lebih menarik dari semua karya senimu, Dokter."
Lalu, di telinga Adrian, neraka baru dimulai.
Saat pria itu menekan tombol, Adrian tidak mendengar suara ledakan atau raungan yang menyakitkan. Yang ia rasakan adalah suara berdengung tipis yang nyaris tak terdengar, nada murni yang berada di batas ambang pendengaran manusia. Frekuensi tinggi itu tidak merusak gendang telinga, tetapi langsung menyerang sistem saraf pusat dan keseimbangan. Itu adalah serangan keji pada satu-satunya aset yang ia banggakan: otaknya.
Adrian mengerang. Dalam hitungan detik, rasa mual yang hebat membuatnya ingin memuntahkan isi perut. Vertigo membuatnya merasa otaknya berputar di dalam tengkorak, seolah jiwanya terlepas dari sumsumnya. Migrain yang ditimbulkan tak tertahankan, seperti ada jarum panas yang menusuk dari dalam. Dia menggerakkan kepalanya ke samping, mencoba melarikan diri dari suara yang tidak bisa ia hindari, suara yang resonansinya hanya bisa ia rasakan di balik bola matanya.
'Sial, apa-apaan ini. Bahkan aku tidak pernah memikirkan penyiksaan seperti ini,' pikir Adrian, berjuang untuk tetap waras. Pikirannya, yang selama ini menjadi benteng terakhirnya, kini diserang. Ini jelas orang-orang yang tahu cara menjatuhkan seorang Architect yang angkuh.
Namun, ditengah semua rasa sakit yang diderita, keraguan yang menyakitkan terus menghantuinya.
'Apakah William yang mengatur semua ini?'
Anak itu licik, dia tahu jika dia turun tangan sendiri, aku tidak akan pernah menyerah. Dia tahu cara kerjaku. Tapi, kemana dia selama ini? Mengapa dia tidak muncul, menikmati hasil karyanya?
'Jika bukan William, apakah ini benar-benar musuh lama?' Sial, kalau musuhnya, apa yang mereka incar? Keluarga mereka sudah menjadi mahakarya, jadi kenapa mengusiknya setelah bertahun-tahun?
Waktu berhamburan menjadi siklus yang mengerikan. pagi dan malam seperti menjadi satu kesatuan kabur yang didominasi oleh dua hal rasa sakit dan kejutan. Adrian disiksa dengan Penyiksaan Air Es yang membunuh suhu tubuhnya turun drastis. Ember demi ember berisi air es dilemparkan kepadanya. Air itu menembus kain tipis yang ia kenakan, merendamnya, lalu ia dibiarkan menggigil di ruangan bersuhu nol derajat.
Rasa dingin itu menembus lapis demi lapis, memicu nyeri otot yang luar biasa di kakinya, di persendiannya yang sudah rapuh. Itu adalah hipotermia awal yang disengaja. Rasa dingin itu memaksa jantungnya berdetak kencang dalam upaya sia-sia untuk mempertahankan suhu. Adrian bergetar hebat, sebuah refleks primal yang tidak bisa ia hentikan, sebuah tanda kegagalan tubuhnya untuk melawan lingkungan. Suara berdengung di kepalanya tak pernah berhenti, memastikan ia tidak pernah menemukan kedamaian, bahkan dalam penderitaan. Adrian bisa merasakan organ-organ utamanya bekerja terlalu keras, berusaha mematikan dirinya dari dalam tanpa meninggalkan memar yang berarti di kulitnya.
Tepat saat ototnya mulai mati rasa karena kedinginan, mereka beralih ke Stimulasi Neuromuskuler. Mereka tidak membiarkannya mati beku. Elektroda kecil dipasang di belakang lehernya, di bawah rusuk, dan di pergelangan kakinya.
Begitu kejut listrik dilepaskan, Adrian menjerit—bukan karena terbakar, tetapi karena kejang tak terkendalinya yang merobek ototnya. Rasa sakitnya begitu diluar kendali, seolah ada tangan tak terlihat yang meraih dan memeras setiap serat ototnya hingga batas putus. Punggungnya melengkung secara brutal, tangannya menarik rantai dengan kekuatan liar, berusaha melarikan diri dari sinyal listrik yang mengacaukan tubuhnya, membuatnya menjadi boneka yang menari di kawat tegangan tinggi.
'Sakit....sial sangat menyakitkan...apa salahku kenapa harus menerima ini sial..', pikirnya.
bukan hanya merasa harga dirinya hancur, tapi juga semua kesombongannya selama ini semakin membuat adrian membenci musuh yang menyakitinya. 'aku akan membalas mereka...akhh sial menyaitkan.'
ini seperti adegan kejatuhan sang predator.
Pada titik inilah, saat tubuhnya bergetar tak berdaya, sebuah kamera kecil diletakkan di sudut, merekam kekejian itu—bukti yang dibutuhkan para penculik. Adrian kehilangan hitungan waktu. Dia hanya bisa merespons rasa sakit. udara dingin yang diterima tubuhnya sangat ekstreme hingga membuat tubuhnya bergetar. Suara berdengung telah menjadi latar belakang yang menyakitkan. Dia bergumam, suaranya tidak jelas, penuh umpatan yang tercekik.
Dia mencapai batas kelelahan sensorik. Setiap sentuhan terasa seperti tusukan jarum.
Untuk memecah pertahanan fisiknya yang tersisa, penyiksaan memasuki fase yang lebih kejam, bermain dengan suhu. Adrian diseret keluar dari dingin yang mematikan, dipaksa masuk ke dalam sauna kecil dengan suhu panas ekstrem. Perubahan suhu yang tiba-tiba ini adalah siksaan brutal setelah ia berada di suhu dingin yang ekstrem. Ia merasakan pembuluh darahnya melebar secara menyakitkan, hanya untuk kemudian diseret kembali ke ruang bawah tanah yang bersuhu di bawah nol. Pengulangan kejut suhu ini menyebabkan syok vaskular akut.
Adrian merasakan kepalanya berdenyut, pembuluh darahnya terasa seperti kawat tipis yang ditarik hingga putus. Puncaknya terjadi ketika salah satu pria menggunakan tekanan terfokus pada titik-titik vital di perut dan dada Adrian, mengacaukan detak jantungnya. Adrian merasakan aritmia parah, jantungnya berdebar kencang, lalu melambat berbahaya, seperti mesin tua yang akan berhenti. Rasa sakit di dadanya adalah rasa sakit kegagalan organ—jantungnya sendiri mengkhianatinya, berusaha mengakhiri penderitaan yang tak bertepi.
Pria itu tahu dia tidak bisa membiarkan Adrian mati di sana. Kematian di tempat akan membuang hasil penyiksaan mereka. Adrian harus mati dalam perjalanan, atau segera setelah ditemukan.
Pria itu memasang kembali elektroda kejut untuk putaran terakhir, intensitas tertinggi.
"Ini untuk semua yang kau ambil dari kami, Adrian," bisiknya, suaranya kini terdengar seperti belati.
Aliran listrik membanjiri saraf Adrian. Ini lebih buruk dari sebelumnya—kejang total, seperti serangan epilepsi yang dipaksakan. Adrian hanya merasakan getaran hebat, lalu cahaya putih yang meledak di otaknya, diikuti oleh kegelapan yang dalam dan dingin.
Ketika pria itu mematikan alat itu, tubuh Adrian terkulai. Matanya terbuka, tetapi retinanya tidak lagi merespons cahaya. Denyut nadinya lemah, napasnya tersengal-sengal. Adrian terkulai, kesadarannya terenggut ke dalam kegelapan yang dalam dan dingin.
Para penculik pergi, meninggalkan sebuah pesan anonim di lokasi Adrian. Misi mereka selesai.
Tidak lama setelah para penculik itu pergi, William tiba. Dia sendirian.
Dia mengenakan mantel panjang yang bersih, melangkah tanpa suara di genangan air es. Wajahnya tenang, tidak ada amarah yang membara karena pelarian Adrian, tidak ada kegembiraan atas penderitaan orang lain, hanya kekosongan yang dingin. Dia menemukan Adrian yang menggigil di kursi besi dan kamera kecil yang merekam seluruh penyiksaan.
William mengambil rekaman itu. Dia mematikan suara berdengung di telinga Adrian.
"Ini sangat menyenangkan, Ayah."
Dia membungkuk, wajahnya mendekat ke wajah Adrian yang sedingin es.
"3 hari ayah," bisik William, suaranya sedingin es di bawahnya, namun memiliki keintiman yang mengerikan. "Ayah, aku tahu itu sangat sakit. Tapi itu salahmu karena kabur dariku. Aku hanya menunjukkan padamu konsekuensi dari ketidakpatuhan. Tapi ini... ini menyenangkan."
Matanya menatap lembut Adrian, seolah Adrian adalah barang berharganya yang rusak.
"Tapi jangan khawatir," lanjutnya, suaranya perlahan berubah menjadi sinis, penuh pemujaan gelap. "Lian akan mengakhirinya, Ayah. Aku akan membuatmu menjadi sempurna, seperti yang selalu kau inginkan."
William mendekatkan wajahnya dan mencium kening Adrian yang pucat dan dingin dengan lembut, sentuhan perpisahan seorang putra pada ayahnya. Dia menjauhkan wajahnya perlahan dan mulai mengangkat tubuh Adrian yang lumpuh. Dia menghubungi tim medisnya.
****
Villa Mr. Sinclair, 11:43 PM.
Adrian dibawa ke meja operasi, diterangi lampu-lampu putih tajam. Monitor menunjukkan detak jantung yang sporadis dan gelombang otak yang datar. Adrian secara klinis berada dalam kondisi vegetatif yang sekarat.
Asisten bedah William, seorang pria kurus dengan ekspresi ketakutan yang tersembunyi, menyerahkan pisau bedah.
William mengambil pisau bedah itu. Matanya bersinar dengan obsesi yang dingin, memantulkan cahaya lampu bedah.
"Malam ini, adalah langkah awal hidupku. jangan salahkan aku ayah."
"Permainan ini menyenangkan, bukan?"
Dia menyeringai, senyum kecil yang mematikan.
Tanpa ragu, William mengarahkan pisau bedah ke dada ayahnya.
Di bawah pisau bedah William, kreasi terbesarnya Adrian, Sang Architect, memulai perjalanannya menuju ketiadaan.
***

Comments
Post a Comment