Dua hari.
Waktu terasa seperti sirup yang kental dan menjijikkan, mengalir lambat dan mengikat Adrian dalam keadaan macet yang menyiksa. Dua hari penuh Adrian memenuhi nafsu anak muda itu. Lian tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Dia adalah mesin yang sempurna, dingin, dan menuntut. William menggunakan obat penenang dalam dosis yang sangat hati-hati, cukup untuk melumpuhkan otot Adrian, membuatnya tidak berdaya untuk melawan atau bahkan menolak, namun cukup jernih agar Adrian tetap sadar sepenuhnya, kualifikasi setiap detik penghinaan. Rasa sakit fisik adalah hal yang Adrian anggap remeh, tetapi rasa sakit ini ternyata begitu menyiksa tubuh yang rapuh.
"Ayah tahu," bisik Lian saat itu, suaranya parau karena hasrat yang masih membara, "aku sangat menyukai hal ini. Ini sangat menarik, bahkan lebih menarik dari pelajaran Ayah dulu. Ayo senyum, Ayah, kamu biasanya sangat bangga denganku." Lian merengek manja, dan Adrian merasa ingin mengisi isi perut saat itu juga.
Adrian merasa dirinya dicabik-cabik, dihancurkan, dan dibentuk kembali menjadi objek yang hanya bisa digunakan untuk pemuasan tergelap Lian. Bau keringat, cairan tubuh yang menjijikkan, dan aroma mewah kamar yang tidak pernah hilang, menciptakan neraka sensorik bagi Adrian yang terobsesi pada kebersihan. Dari seorang pemburu yang sempurna, dia menjadi mangsa tak berdaya. Pemburu yang dimangsa oleh monster yang ia ciptakan.
Namun, di tengah kehancuran ini, inti dari kegilaan dan keangkuhan Adrian, sang Arsitek di masa lalu, tidak pernah mati. Itu hanya bersembunyi.
Adrian berjanji pada dirinya sendiri: jika dia tidak bisa membunuh Lian secara fisik, dia akan memastikan jatuhnya Lian secara mental. Ia akan membunuh Little Lian yang manja dan membiarkan Mr. Sinclair yang dingin itu membusuk. Ck , sepertinya dia tahu apa kelemahan Lian.
Pada malam kedua, sekitar pukul dua pagi, Adrian merasakan perbedaan kecil namun signifikan dalam dosis obat penenang yang diberikannya. Efeknya tidak seperti biasanya; kesadarannya lebih tajam, dan ia bisa merasakan kedutan samar pada otot jari-jarinya.
Lian, atau William, tiba-tiba pergi terburu-buru di tengah malam, meninggalkan vila ini. Ia bahkan meninggalkan Adrian yang masih dipenuhi cairan lengket di tubuhnya, sebuah pengabaian yang menunjukkan bahwa bagi William, perlawanan Adrian sudah tidak relevan.
Matahari hari ketiga menyaring tirai sutra, dan Adrian terbangun sendirian. Seprai ditempat yang dingin, menandakan William telah pergi beberapa waktu yang lalu.
Dua hari penuh sistematis sistematis, di mana Adrian diperlakukan seperti barang antik yang dibeli dengan harga mahal, dipajang, dan dinikmati tanpa peduli. Obat penenang yang digunakan William—sebuah campuran kelumpuhan otot dengan disosiatif ringan yang bekerja melalui sistem penguapan—membuat tubuh Adrian lumpuh, tidak berdaya untuk melawan nafsu anak. William selalu melakukan apa yang ia mau, lembut di antara kebrutalan, selalu meninggalkan Adrian dalam keadaan terlumuri, sebuah pengingat yang menjijikkan akan menyampaikan paksa.
Adrian berjuang untuk duduk. Obat itu mulai kehilangan efeknya. Ia tahu obat yang sama tidak akan diberikan dua kali berturut-turut pada interval yang sama; William pasti menargetkan waktu istirahat dan makan untuk dosis berikutnya. Kesempatan terbaik Adrian adalah sekarang.
Ia berbaring dari kasur, merasakan cairan lengket yang mengering di sekujur tubuhnya. Adrian melangkah ke kamar mandi, membuka pancuran air dingin. Udara dingin itu seperti kejut listrik, memaksa sarafnya yang lelah untuk kembali berfungsi. Ia tidak membersihkan noda di kulitnya secara menyeluruh—ia tidak punya waktu—tetapi ia mencuci titik-titik vital, mencoba menghilangkan bau parfum Mr. Sinclair yang melekat dan menjijikkan. Saat ia memaksakan tubuhnya yang remuk untuk berpakaian—kemeja sutra yang disediakan William terasa seperti parkir—emosi kompleks mulai mendominasi.
Seperti biasa, rumah ini dijaga oleh sedikit orang. Adrian menyadari bahwa William mungkin sudah tidak lagi tertarik padanya, karena William hanya meninggalkannya dengan beberapa pelayan di rumah tanpa penjaga gerbang. Mungkin dia berpikir rasa sakit di tubuhnya Adrian bisa menghentikannya, namun itu tidak cukup.
Adrian memilih menghindari CCTV dan pelayan. Melarikan diri dari vila besar memang tidak mudah; dia harus memakan waktu satu jam meskipun vila hanya ada beberapa pelayan saja. Sial, lihatlah, gerbangnya saja sangat jauh. Itu benar-benar memuaskan tubuhnya yang masih remuk. Tunggu, kenapa gerbang tidak terkunci? Cukup aneh, tapi bertahan dengan itu, lebih baik kabur dulu.
Seperti yang diharapkan dari Mr. Sinclair, vila ini cukup jauh dari pemukiman. Sialan. Untungnya, Adrian menemukan target: ia melihat seorang pejalan kaki wanita yang baru saja membeli sesuatu, tidak jauh darinya. Adrian melihat tong sampah dan menemukan beberapa botol kaca. Dia melihat sekitar, karena tahu suasana di sekitar cukup sepi, jadi dia memecahkan botol kaca itu dengan sekali banting. Ia mengambil pecahan kaca dan mulai mengintai mangsa.
Tubuhnya tidak cukup gesit, namun keterampilan tangannya sangat sensitif. Membunuh jelas sangat mudah, bukan?
Adrian bergerak dengan kecepatan yang mustahil bagi seseorang yang baru saja melewati dua hari penyiksaan. Keahliannya sebagai pemburu kembali mengambil alih. Ia tidak mendekat dari belakang, yang terlalu klise, melainkan menyergap dari semak-semak, bersembunyi di sudut buta penglihatan wanita itu. Ketika wanita itu melewatinya, Adrian melompat, tangannya yang memegang pecahan kaca bergerak dalam gerakan mematikan yang efisien, sebuah sayatan tajam dan dalam di arteri karotis sang korban.
Wanita itu bahkan tidak sempat berteriak. Dia tergulai lemas, matanya terbelalak karena terkejut. merah pekat menyemburkan darah dari yang terbuka, membasahi rumput di sekitarnya.
Adrian sangat puas, bahkan menyesali penderitaan yang sempat dideritanya. Ini seperti tonik untuk Adrian, kepuasan yang membuat dia ingin sekali membedah setiap lapisan kulit mangsa. Kepuasan itu membersihkan kotoran yang ditinggalkan William di jiwa.
Adrian membersihkan beberapa bukti, membuang pecahan kaca yang berlumuran darah ke dalam gorong-gorong terdekat, dan membuang mayat itu di dekat tong sampah. Dia mengambil ponsel milik korban untuk menghubungi seseorang, dan ia mengambil uang tunai milik korban. Untungnya, darah wanita itu tidak sampai mengotori Adrian; atau Adrian akan sangat marah dan menusuk wanita itu beberapa kali lagi.
Dia berjalan cukup jauh sampai melihat jalan raya. Dia menghentikan taksi dan pergi sejauh mungkin, menghindari area yang ramai atau landmark terkenal. Adrian jelas tidak bisa kembali ke Boston; kartu identitas dan lainnya sudah diambil oleh Lisa, dan William pasti menghancurkannya atau menyembunyikannya.
Adrian memilih ke tempat seperti rumah judi atau penginapan yang tidak memerlukan ketat identitas. Dia kembali menyalakan ponsel si korban dan mengetik nomor baru. Dia menelepon nomor itu.
"Halo ya, siapa?" Suara yang cukup lama Adrian tidak mendengarnya.
"Julian, ini aku. Oh, aku berada di New York, kau tahu?"
Ada keheningan yang panjang di ujung telepon.
"Tunggu, apa yang kamu lakukan di sana, sial!" suara Julian terdengar panik.
"Aku hanya berlibur. Ngomong-ngomong, kau sepertinya kalah, Adrian. Anakku jelas penerusku, hahaha," jawab Julian, berusaha menutupi ketakutannya dengan tawa kompetitif yang canggung.
"Heh, apa yang kau katakan..." Adrian tertawa dingin, menikmati reaksi Julian.
Adrian puas tersenyum dengan reaksi Julian. Pria itu memang sangat naif sampai tidak pernah tahu apa yang dilakukan William selama ini. Bagaimana William bisa diketahui menjadi Mr. Sinclair tanpa Julian? Kecuali Julian memang hanya mementingkan egonya saja.
Adrian, meskipun membenci dirinya sendiri menjadi pemuas nafsu darah dagingnya sendiri, dia juga sangat bangga. William benar-benar memiliki genetiknya, bahkan jauh lebih buas dibandingkan dirinya.
'Dia adalah kreasi terbesarku.'
William adalah pembuktian bahwa ia tidak gagal sebagai predator, bahkan menciptakan sebuah karya yang sangat mematikan. Ini jelas apa yang diinginkan Elias dulu: menciptakan manusia yang membunuh dengan cepat dan tanpa jejak. Tapi yang jelas ide Elias dan Adrian sangat berbeda.
Orang seperti Elias tidak tahu bahwa jika insting membunuh seseorang seperti dibor, dia jelas akan sangat kecanduan dan tidak bisa dikendalikan kecuali oleh monster yang lebih kuat seperti William. Elias sangat jauh dari itu semua. Menjijikkan, seseorang yang naif berharap mengendalikan monster bukankah hanya ingin dia menjadi santapan?
Dan Julian? Sial, dia bahkan lebih buruk. Dia selalu berkata bahwa dia sangat lurus dan tidak pernah tersesat. Tapi sejak dia dipenjara, Julian selalu membahasnya dan bersikap kompetitif dalam hal apa pun, sungguh menyenangkan melihatnya panik dan selalu berpikir dirinya benar.
Setelah menutup telepon, mayat milik ponsel itu jelas Adrian buang di jalan sebelum dia menemukan penginapan yang cocok.
Mengambil kunci kamar, Adrian membuka pintunya dan memilih beristirahat. Hari yang panjang. Sudah lebih dari lima jam sekarang sejak dia membunuh mayat itu. Jelas polisi akan segera menemukan mayat itu, dan William jelas sudah mulai mencarinya.
Yah, lebih baik dipenjara dan tidak pernah bertemu dengan anak itu. Tapi bebas juga lebih baik sebenarnya, namun entahlah apa yang akan terjadi di depannya. Lebih baik dia tidur.
Adrian terjatuh ke kasur, tubuhnya langsung terlelap karena kelelahan, rasa sakit fisik, dan ketegangan mental yang luar biasa. Dia tidur hanya sekitar satu jam.
Tiba-tiba, ia terbangun karena ketukan keras di pintu.
Tok! Tok! Tok!
Adrian langsung waspada. Ia berbaring dari kasur, tangannya meraih saku celana. Untungnya, ia menyembunyikan pecahan kaca kecil lain di sana, menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa bertahan tanpa senjata. Ia tidak mau terlihat terlalu waspada, jadi ia harus bersikap ramah, seperti penghuni hotel biasa.
Adrian membuka pintu.
Baru saja dia mau mengucapkan ramah dengan senyuman palsu, sebuah pistol ditodongkan tepat ke wajahnya.
"Diamlah, Dokter Adrian," suara pria itu berat dan bernyanyi.
Adrian terkejut. Sial! Apa-apaan ini? Baru saja lolos dari William, dia malah diincar orang lain.
Beberapa pria besar dengan pengaturan gelap masuk ke kamar, mengunci pergerakan Adrian. Adrian, meskipun badannya remuk, bukanlah orang yang mudah ditangkap. Instingnya mengambil alih. Ia berputar, mencoba menggunakan ambang pintu sebagai penarik untuk memutar pria terdekat.
"Siapa kalian?!" raung Adrian, suaranya kembali ke wibawa lama sang Arsitek , meskipun gemetar.
Salah satu pria itu mencengkeram lengan Adrian dengan kuat, dan yang lainnya menyodorkan kain yang membasahi zat berbau tajam ke wajah Adrian. Adrian menahan napas, tahu betul apa zat ini. Ia sudah mengalami cukup kelumpuhan dalam dua hari terakhir dan menolak untuk jatuh lagi. Ia menahan napas, otot-ototnya menegangkan.
Namun tubuhnya telah berkhianat. Ototnya terlalu lelah, paru-parunya menuntut udara, dan rasa sakit karena rencana William telah merusak daya tahannya. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, Adrian terpaksa menghirup kabut zat kimia yang manis itu. Pandangannya mulai buram.
"Tahan napasmu, Dokter. Itu tidak akan berhasil," ejek pria berjas itu.
Adrian mengerang, kekuatan meninggalkannya. Ia ambruk ke lantai, tapi sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia sempat melihat lencana yang dikenakan salah satu pria itu, sebuah lambang yang ia kenali dari masa lalu.
Ini bukan orang-orang William.
Adrian ambruk, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan terakhir: Siapa yang menculikku sekarang?
***
Next>>https://archivebl.blogspot.com/2026/04/15.html
Comments
Post a Comment