Boston, Massachusetts. Awal Oktober. Pukul 17.00.
Hakim George menyelesaikan tugas-tugas terakhirnya. Ruangan pribadinya di gedung pengadilan tua Boston terasa mencekam, dinding yang biasanya memberinya rasa aman kini terasa menekan. George, seorang pria yang hidupnya diatur oleh preseden dan hukum, merasa fondasi realitasnya mulai retak. Di mejanya, dengan tumpukan kertas menumpuk, ada sebuah kotak paket yang baru dia terima dan buka.
Saat membuka paket itu yang ditemukan George adalah setumpuk foto dan sebuah kotak hitam kecil. George penasaran dan membuka kotak itu dan ternyata berisi flash drive.
George penasaran mengambil setumpuk foto itu dan saat dia melihat gambar di foto George sangat terkejut. Dia meletakkan kembali foto itu di kotak dan kembali ke pintu untuk mengunci pintu. Setelah dirasa aman, George kembali melihat foto.
Foto-foto itu menunjukkan Adrian Vance yang angkuh, yang George kenal sebagai manipulator terlicin yang pernah ia tangani, kini direduksi menjadi korban disiksa hingga putus asa.
George hanya mampu menonton dua menit dari video di flash drive itu, teriakan teredam Adrian, suasana mencekam saat Adrian disiram air es. Hingga kulitnya memerah dan bergetar hebat, dengungan listrik rendah yang menyiksa, dan tatapan mata Adrian yang sepenuhnya kehilangan martabatnya. Itu adalah siksaan yang dirancang untuk membunuh seorang predator. George mematikan laptopnya seolah-olah mesin itu sendiri adalah sumber kontaminasi. Ia harus menyerap kepastian ini sendirian.
Paket kedua, yang jauh lebih kecil tetapi terasa berat dan tampak lebih misterius, ia buka perlahan. Bau samar, seperti daging segar dari rumah jagal, menyeruak. Di dalamnya, dibungkus dalam kantong vakum berlapis kain kasa bedah, tergeletak sepasang organ. George, meskipun seorang hakim, tahu apa yang dilihatnya.
Itu adalah Hati dan Ginjal yang terpotong rapi. Organ-organ itu pucat, basah, dan tampak dingin, seolah baru saja dikeluarkan dari lemari es forensik. Dan di samping Ginjal itu, diletakkan catatan kalau itu DNA milik Adrian. George tersentak mundur, kursi kulitnya berderit keras. Paket yang diterimanya benar-benar mengerikan.
Siapa pun yang melakukan ini tidak ingin ada keraguan. Dia tidak hanya mengirimkan bukti, dia mengirimkan pesan ancaman yang ditujukan secara spesifik kepada orang yang paling bertanggung jawab menjaga rahasia Adrian.
George sedikit mengerti kenapa dia juga dikirim. Karena dialah yang menangani kasus Adrian saat itu. Kepada George, sang penegak hukum yang berbohong demi keadilan yang lebih besar.
Dan jika dugaannya benar, mungkin Julian akan menerima paket yang sama atau mungkin, apakah Robert?
Kepada Robert Sullivan, kepala rumah sakit yang bungkam?
George berdiri, mengambil jaketnya, dan mengunci laci mejanya, menyimpan organ-organ itu dalam tas bekal termal miliknya. Sebagai seorang Hakim federal, dia baru saja menerima barang bukti pembunuhan terhadap tersangka lamanya. Tanggung jawabnya adalah melaporkannya. Tetapi, rasa lega yang dingin mengalir dalam nadinya, menggantikan kengerian itu.
Melaporkan berarti membuka kembali arsip Adrian, mengungkap rahasia mereka, dan mengancam kesuksesan mereka sekarang.
Dia menatap tas bekal termal itu, yang kini terasa seperti peti mati portabel. Adrian akhirnya hilang. George mengambil keputusan mutlak: Adrian tidak pernah ada di sini. Bukti ini harus lenyap.
****
Kediaman Robert Sullivan, Pukul 19.30 malam.
Robert Sullivan, mantan ahli bedah yang kini menjadi konsultan, sedang menikmati secangkir teh herbal, mencoba menenangkan sarafnya dari mimpi buruk yang menghantuinya selama enam belas tahun. Ketukan keras di pintu membuat ia hampir menjatuhkan cangkirnya.
Di luar, sebuah paket tergeletak yang ditujukan kepada Robert. Paket itu tebal, tetapi terasa lembut di dalamnya. Saat Robert merobek pembungkusnya, ia melihat foto-foto yang sama yang dilihat George. Foto Adrian yang terikat di kursi besi dan video penyiksaan. Wajah Robert, yang biasanya tenang dan berwibawa, berubah pucat pasi. Ia memejamkan mata, memegang erat flash drive itu seolah-olah api.
Ia membuka paket kedua. Kali ini, isinya jauh lebih intim. Dibungkus dalam kain linen putih yang bersih, terdapat sebuah organ yang tampak seperti batu. Robert, dengan segala pengalamannya di meja operasi, langsung tahu.
Itu adalah Jaringan Jantung yang besar, dipotong dengan sangat rapi. Potongan itu masih tampak lembap, dengan tekstur padat dan warna merah marun gelap. Bau besi dan amis darah langsung menyerang indra penciumannya. Robert tersentak. Jantung. Jantung, pusat kehidupan, kini menjadi bukti kematian.
Organ itu terasa begitu nyata, begitu mengerikan hingga Robert tidak bisa menahan tangannya yang bergetar. Robert ambruk ke lantai kayu ek, memegangi dadanya sendiri. Bukan karena rasa duka, tetapi karena kombinasi rasa jijik, kengerian, dan rasa takut akan pembalasan. Siapa yang bisa mengirimkan organ manusia secara anonim dengan sangat rahasia seperti ini? Itu pasti seseorang yang memiliki akses ke laboratorium, ke peralatan forensik, seseorang yang tahu cara memotong tanpa merusak.
Dia menyembunyikan organ itu di dalam lemari pendingin forensik kecil di ruang bawah tanahnya, tempat yang dulunya menyimpan sampel medis berharga, kini menjadi kuburan rahasia. Rasa paniknya memuncak. Ini adalah pembalasan yang mengerikan, jauh lebih terorganisir dan kejam daripada Adrian sendiri.
Pukul 01:00 dini hari, setelah menelan dua pil penenang yang gagal bekerja, Robert akhirnya menghubungi George.
"George, ini aku. Aku tahu sudah larut, tapi aku harus... aku harus tahu kau baik-baik saja." Suara Robert bergetar.
"Aku sudah melihatnya, Robert. Hati dan Ginjal," balas George, suaranya serak tapi dikontrol dengan ketat. "Dan kau?"
Robert menarik napas tajam. "Aku dapat Jaringan Jantung. Organ inti. George, ini bukan kebetulan. Organ-organ itu dibagi di antara kita, membuktikan satu tubuh. Dia ingin kita tahu, pasti tahu, bahwa dia telah menyelesaikan pekerjaan kita."
Mereka berdua mencapai kesimpulan yang sama: Pembunuh Baru ini tidak hanya mengeksekusi Adrian, tetapi juga sedang mengirimkan laporan kemajuan kepada dua orang yang paling tahu mengapa Adrian layak mati. Ini adalah sebuah pertunjukan yang keji, tetapi efisien.
Mereka sepakat untuk bertemu. Tidak ada polisi. Tidak ada rumah sakit. Hanya mereka dan rahasia mereka.
****
Laboratorium Rahasia Robert. Pukul 03.00 Pagi.
Laboratorium yang tidak terpakai itu terletak di dalam sebuah gudang sewaan yang jauh di pinggiran kota, hanya dikenal oleh Robert. Udara di sana lembap dan berbau disinfektan tua. Hanya ada lampu neon putih yang berkedip-kedip, menyoroti meja baja nirkarat.
George dengan hati-hati meletakkan Ginjal, Hati, di atas meja. Robert menempatkan Jaringan Jantung di sampingnya. Pemandangan organ-organ yang terpotong itu, bukti kematian, di bawah cahaya putih yang keras, terasa final dan brutal.
"Kita harus yakin, Robert. Seratus persen. Jika kita menghancurkan bukti ini, kita mempertaruhkan semuanya. Kita harus bisa tidur di malam hari dengan tahu bahwa Adrian benar-benar hilang," ujar George, tangannya terkepal.
"Aku tidak akan bisa tidur lagi, George. Tapi aku akan pastikan ini. Aku masih menyimpan sampel rambut dan darah kering Adrian dari enam belas tahun lalu. Kau ingat, kita menyimpannya untuk jaga-jaga, jika dia kembali membunuh ingat?" kata Robert, mengambil tabung kecil dari lemari besi tua.
Robert memulai proses ekstraksi DNA. Itu adalah tarian yang panjang dan rumit di pagi buta. Dia mengambil sampel kecil dari Ginjal, Hati, dan Jaringan Jantung. Dia memprosesnya melalui mesin sentrifugal, mencuci, dan memurnikan. Setiap langkah memakan waktu, dan George hanya bisa mondar-mandir, mendengarkan dengungan rendah mesin.
Robert memasukkan semua sampel yang baru diekstraksi ke dalam mesin, membandingkannya dengan DNA Adrian yang tersimpan.
Menunggu hasil terasa seperti menunggu keputusan juri tentang hidup mereka. Setiap detik terasa memanjang, membawa beban dosa dan kelegaan.
Setelah hampir dua jam penuh ketegangan, printer di sudut ruangan mulai berderit. Robert mengambil lembaran hasil. George mendekat, menatap monitor yang menampilkan pola-pola genetik rumit—pita-pita hitam dari elektroforesis yang menunjukkan penanda genetik di berbagai locus.
Robert menunjuk ke monitor, jari telunjuknya gemetar saat menyentuh layar. "George... lihat locus genetiknya. Enam belas penanda yang kita uji. Sampel dari Ginjal, Hati, Jantung, dan Jari... semuanya... Identik 100% dengan sampel Adrian yang lama. Tidak ada celah. Tidak ada kontaminasi. Ini adalah Adrian. Dia sudah mati."
Kelegaan yang dingin dan mengerikan membanjiri George. Dia merasakan tekanan di dadanya mengendur setelah bertahun-tahun menegang. Adrian, si iblis yang selalu lolos, kini telah musnah, bukan oleh hukum, tetapi oleh kegelapan yang lebih besar.
"Hancurkan semuanya, Robert. Sekarang!! Bakar organ-organ itu, hilangkan semua jejak, hapus data," perintah George.
"Tu-tunggu, sepertinya kita harus menghubungi Julian. Dia juga orang terkait kali ini."
"Lebih baik hancurkan dulu."
Sinar matahari pertama mulai menyusup melalui celah gudang saat mereka menyelesaikan penghancuran semua bukti. Robert, yang kelelahan secara fisik dan emosional, menyuarakan dilema moral terakhir mereka.
"Apa sekarang kita hubungin julian? dia harus tahu. Aku tahu dia pasti panik memikirkan Adrian mencari William," kata Robert. "Setelah dikhianati mentornya, William adalah harta paling berharganya. Julian Hayes telah mengubah seluruh hidupnya, mengambil tanggung jawab, dan membesarkan anak itu menjauh dari nama Adrian. Dia layak mendapatkan kedamaian."
George mengangguk. Dia memandang Julian sebagai pahlawan yang tidak diakui, seorang pria yang menolak warisan ayahnya, seorang adik dari iblis yang memilih menjadi malaikat pelindung keponakannya. Julian telah bekerja sangat keras untuk menutupi masa lalu William, membesarkannya dengan cinta dan struktur yang ketat. Kekhawatiran Julian bahwa Adrian akan menemukan William adalah hal yang menggerogotinya.
"Dia akan hancur oleh kesedihan. Adrian adalah mentor dan orang yang dia hormati saat itu, bagaimanapun juga. Rasa bersalah akan memakan dirinya. Kita harus hati-hati," kata George, pandangannya penuh perlindungan terhadap Julian.
Robert menggelengkan kepalanya. "Julian adalah pria yang kuat. Dia telah hidup di bawah bayang-bayang Adrian selama dua puluh tahun. Dia tidak akan bersedih. Dia akan merasakan kelegaan. Dia berhak tahu bahwa monster yang menghantui hidupnya sudah tidak ada, sehingga William bisa benar-benar aman."
Robert setuju untuk menelepon Julian. Pagi itu, dengan suara yang dipaksakan setenang mungkin, Robert menyampaikan berita yang paling mengejutkan sekaligus melegakan dalam hidup Julian.
"Julian, Nak... Kami sudah mengonfirmasi. Mentormu, Adrian, dia telah tiada. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. William aman. Tolong, jangan hancurkan dirimu. Kau sudah berjuang dengan sangat baik," Robert hanya bisa mengatakan itu dan buru-buru menutup telepon. Dia tidak sanggup mendengar reaksi Julian.
George menatap Robert, wajahnya penuh kekaguman. "Sungguh anak yang malang. Dia pasti sangat terkejut."
Di rumahnya, Julian Hayes menatap ponsel yang baru saja ia letakkan. Mata Julian memang merah, tetapi bukan karena tangisan. Itu adalah kelelahan yang akut, didorong oleh insomnia karena obsesi yang membara. Dia telah hidup dalam teror bahwa Adrian Vance, akan kembali dan mengambil William, tidak! William sekarang adalah anaknya, sekarang dia adalah William Hayes—satu-satunya bukti nyata dari ideologinya tentang kesempurnaan.
Adrian telah kalah.
Julian merasakan aliran energi dingin yang luar biasa. Itu adalah konfirmasi dari semua yang ia perjuangkan. Kematian Adrian, yang begitu brutal, terasa seperti sebuah pengakuan tertinggi dari alam semesta bahwa dia, Julian, adalah yang unggul.
Dia berjalan ke jendela setinggi langit-langit, memandang ke cakrawala yang berkilauan di pagi hari. Perlahan, senyum miring muncul di wajahnya. Senyum itu berubah menjadi tawa serak, yang pelan-pelan tumbuh menjadi tawa kemenangan yang brutal dan menakutkan.
"Jadi, akhirnya aku menang," bisiknya, suaranya dipenuhi arogansi dingin.
"William anakku yang sempurna. Bukan anak Adrian. Bukan anak siapapun. Dia adalah milikku sekarang. Warisan yang sebenarnya."
Kematian Adrian adalah konfirmasi. Julian telah berhasil menyingkirkan satu-satunya saingan, satu-satunya ancaman, yang bisa mengancam klaimnya atas William—yang di matanya, adalah simbol idealismenya yang unggul. Julian, yang begitu bangga pada dirinya sendiri, begitu bangga atas William, dan begitu bangga atas kemenangan moralnya.
Ia tidak tahu bahwa Williamlah yang telah membunuh Adrian. Ia tidak tahu siksaan yang dialami mantan mentornya itu. Ia hanya melihat hasil: Adrian tersingkir, dan William si jenius yang ia banggakan akan aman di bawah hak asuhnya.
Julian, sang pahlawan yang dikagumi George, adalah egois yang gelap, sebuah lubang hitam narsisme yang hanya melihat apa yang ingin ia lihat. Ia bangga telah menciptakan anak yang sempurna jauh dari kekejaman milik Adrian. Dia membuktikan bahwa garis keturunan belum tentu sama.
Julian hanya terus tertawa, merayakan kemenangan atas kematian Adrian, tanpa menyadari bahwa ia baru saja memenangkan perang yang salah.
***
Comments
Post a Comment