Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2026

15

  Adrian terbangun bukan karena rasa sakit yang tajam, melainkan karena sensasi dingin yang begitu menusuk hingga terasa seperti pecahan es yang merayap ke sumsum tulang. Dingin itu bukan hanya suhu melampiaskan  perampasan kehangatan yang kejam, sebuah pengingat bahwa ia tidak lagi memiliki kendali atas lingkungan atau tubuhnya. Ia terikat erat ke kursi besi yang terasa menjijikkan di tengah ruangan yang gelap, lembap, dan penuh bau anyir. Udara di sekelilingnya berat, berbau campuran karat, disinfektan murah, dan ruang yang sangat minim cahaya, mengingatkan pada rumah jagal yang ditinggalkan. "Cih, menjijikkan," gumam Adrian, membiarkan arogansinya menjadi tameng terakhir. Ia mencoba menggerakkan bahunya, tetapi rantai baja di pergelangan tangan dan kakinya menahannya tanpa ampun. Tubuhnya masih menyimpan sisa-sisa kelelahan dan kerusakan dari dua hari bersama William. Ia merasa seperti kain usang yang siap disobek.  Jujur saja, Adrian sangat lelah. Ia hanya sempat tidu...

14

  Dua hari. Waktu terasa seperti sirup yang kental dan menjijikkan, mengalir lambat dan mengikat Adrian dalam keadaan macet yang menyiksa. Dua hari penuh Adrian memenuhi nafsu anak muda itu. Lian tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Dia adalah mesin yang sempurna, dingin, dan menuntut. William menggunakan obat penenang dalam dosis yang sangat hati-hati, cukup untuk melumpuhkan otot Adrian, membuatnya tidak berdaya untuk melawan atau bahkan menolak, namun cukup jernih agar Adrian tetap sadar sepenuhnya, kualifikasi setiap detik penghinaan. Rasa sakit fisik adalah hal yang Adrian anggap remeh, tetapi rasa sakit ini ternyata begitu menyiksa tubuh yang rapuh. "Ayah tahu," bisik Lian saat itu, suaranya parau karena hasrat yang masih membara, "aku sangat menyukai hal ini. Ini sangat menarik, bahkan lebih menarik dari pelajaran Ayah dulu. Ayo senyum, Ayah, kamu biasanya sangat bangga denganku." Lian merengek manja, dan Adrian merasa ingin mengisi isi perut saat itu jug...

13

  New York, Hari Ketiga. Pagi itu datang dengan kejam, tanpa belas kasihan cahaya fajar yang seharusnya membawa harapan. Adrian terbangun, bukan karena alarm atau suara gaduh, melainkan karena rasa sakit fisik yang begitu dalam hingga menembus tidur singkatnya yang dipaksakan. Ia masih telanjang, hanya ditutupi oleh selimut sutra tipis yang terasa berat, seolah-olah kain itu terbuat dari timah yang memuat rasa malu dan kotor. Kepalanya berdenyut, setiap otot di tubuhnya terasa seperti telah diremukkan dan dibangun kembali secara paksa. Ia tidak mampu menyeimbangi Tuan Sinclair. Pak Sinclair masih muda, energinya tak terbatas, nafsunya dingin dan sistematis. Sementara Adrian, yang telah menua, yang bertahun-tahun hidup dengan tekanan dan kelelahan, hanyalah sisa-sisa dari dirinya. Malam itu adalah pengingat brutal atas kekalahannya. Yang paling menjijikkan, yang mematikan alarm jauh lebih parah daripada obat penenang di nadinya, adalah kenyataan bahwa Mr. Sinclair sama sekali tidak ...