Adrian terbangun bukan karena rasa sakit yang tajam, melainkan karena sensasi dingin yang begitu menusuk hingga terasa seperti pecahan es yang merayap ke sumsum tulang. Dingin itu bukan hanya suhu melampiaskan perampasan kehangatan yang kejam, sebuah pengingat bahwa ia tidak lagi memiliki kendali atas lingkungan atau tubuhnya. Ia terikat erat ke kursi besi yang terasa menjijikkan di tengah ruangan yang gelap, lembap, dan penuh bau anyir. Udara di sekelilingnya berat, berbau campuran karat, disinfektan murah, dan ruang yang sangat minim cahaya, mengingatkan pada rumah jagal yang ditinggalkan. "Cih, menjijikkan," gumam Adrian, membiarkan arogansinya menjadi tameng terakhir. Ia mencoba menggerakkan bahunya, tetapi rantai baja di pergelangan tangan dan kakinya menahannya tanpa ampun. Tubuhnya masih menyimpan sisa-sisa kelelahan dan kerusakan dari dua hari bersama William. Ia merasa seperti kain usang yang siap disobek. Jujur saja, Adrian sangat lelah. Ia hanya sempat tidu...