Skip to main content

17

 





London, Inggris. Satu Minggu Setelah Konfirmasi Kematian Adrian.

Kantin Rumah Sakit Swasta. Pukul 16.47.

William Hayes, yang baru saja tiba di London pagi ini, duduk dengan tenang di sebuah meja sudut kantin rumah sakit swasta tempat Ayahnya bekerja.

Penampilan William sangat disengaja dan memikat: ia mengenakan setelan kasual yang mencolok dan mahal, sebuah bomber jacket kulit domba berwarna hitam dengan ritsleting perak minimalis, dipadukan dengan kaus leher V berbahan sutra berwarna abu-abu gelap. Celana panjang tailored fit berwarna senada, dan sepatu loafer kulit Italia tanpa kaus kaki menyempurnakan penampilannya.

William terlihat benar-benar menawan. Wajahnya yang tampan, tubuh tinggi, dan sikap tenangnya menciptakan daya tarik tersendiri. Penampilannya yang terlalu trendi sangat kontras dengan suasana kantin yang dipenuhi wajah-wajah lelah dan panik di jam pulang kerja.

William tiba di London sekitar pukul 10 pagi. Setelah mendarat, ia mengirim beberapa pesan kepada Julian bahwa dia sudah tiba di rumah. Julian, yang kebetulan memegang ponsel, langsung memaksanya untuk beristirahat di rumah, tidak perlu lagi pergi ke apartemen William. Julian menyarankan agar William menjual apartemen itu karena jika William kembali dari New York, lebih baik menginap di rumah saja.

William hanya bersikap patuh pada ayahnya. Meskipun ia masih meninggalkan banyak barang saat meninggalkan apartemennya tiga minggu lalu dan tidak berniat menjualnya, ia tahu Julian adalah ayah yang sangat posesif.

Alasan ia berada di London hanya tiga hari setelah pindah ke New York adalah karena ada acara reuni sekolah menengah yang harus dihadirinya. Demi berperan sebagai anak yang baik, ia tidak akan melewatkan kesempatan menjadi anak yang patuh. Ia merasa jengah di New York, dan menghabiskan beberapa hari di London untuk reuni adalah ide yang bagus.

Ia beristirahat sebentar di rumah sebelum harus bertemu Julian di rumah sakit sore itu. William harus menuruti permintaan Julian untuk bertemu segera setelah operasi, sebelum ia melanjutkan agenda reuninya.

"Hai, Will."

Julian datang bersama dengan Sarah.

"Bagaimana hidupmu di sana, Nak? New York? Kau tinggal di apartemen kecil, bukan?" ujar Julian, senyum di bibirnya lebih lebar dan lebih tulus dari yang William lihat dalam bertahun-tahun. Julian, yang baru selesai menghirup udara segar setelah operasi panjang, memancarkan aura santai dan rileks, sebuah kedamaian yang baru ditemukan dan hampir terlihat sombong.

"Aku baik-baik saja, Ayah," jawab William sembari memakan makanan yang sudah ia pesan. "Cukup nyaman, meskipun memang apartemennya kecil. Yah, tapi jika aku sudah menghasilkan banyak uang, aku akan membeli rumah di sana."

Julian tertawa bangga, menyentuh lengan wanita yang duduk di sampingnya. Wanita itu adalah Dr. Sarah Miller, yang tampak sama elegannya dengan William, tetapi mengenakan gaun sutra burgundy yang agak terlalu mahal dan menonjol untuk suasana kantin rumah sakit yang remang-remang.

"Lihat, sayang," kata Julian kepada Sarah, nadanya dipenuhi kebanggaan seorang ayah. "William benar-benar anakku. Lihat dia sudah menjadi pria yang hebat sekarang. Mungkin lima tahun ke depan namanya sudah dikenal banyak orang. Jelas dia hebat karena aku ayahnya, bukan?"

"William, kau harus merencanakan masa depanmu dengan sempurna," lanjut Julian, mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapan obsesifnya kembali, namun kini dibungkus dengan kelegaan yang manis. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan New York? Apa kau berencana tinggal lama di sana?"

"Aku hanya menuruti Ayah," jawab William tenang, membuat Julian semakin puas.

"Sayang," sela Sarah, senyumnya tidak mencapai matanya. Senyum itu terasa dipaksakan dan dingin, sebuah lapisan gula tipis di atas cuka. "Tidak baik William selalu bergantung padamu, bukan? Lebih baik terserah William dia ingin di mana. Kariernya jelas tidak terbatas."

Julian mengangguk tanpa sadar, terlalu mabuk oleh kepuasannya sendiri untuk menyadari nada sarkastik Sarah. "Ya, kamu benar, sayang. Lain kali aku akan berkunjung ke New York. Kau bisa merencanakan jika ingin tinggal jangka panjang di sana."

"Ya, Ayah," kata William. Jeda sejenak, William memainkan perannya sebagai anak yang penasaran. "Oh ya, Ayah, bagaimana dengan kalian? Kapan menikah?"

Sarah tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat kaku, hampir seperti batuk yang ditahan. "Uhm, Will, kau bercanda. Itu terserah Ayahmu."

"Ya, Ayah, kapan kau melamar pacarmu?" desak William, menikmati ketidaknyamanan Sarah.

Julian menggenggam tangan Sarah, pancaran kebahagiaan itu kembali. "Tidak perlu terburu-buru. Yang paling penting adalah Ayah ingin kau benar-benar berhasil dulu, Will."

"Aku pasti berhasil."

"Tetap saja, kita bisa berkencan lebih lama, ya kan sayang."

Sarah tersenyum manis dan mengecup bibir Julian singkat.

"Ya, tentu saja."

Jelas, dalam hatinya, dia sangat menentang William. Beberapa hari terakhir ini, Julian benar-benar sangat bergantung padanya. Mereka menghabiskan waktu dengan intens, merayakan kelegaan Julian yang baru ditemukan dengan keintiman orang dewasa. Kehadiran William di London, yang mengganggu ritme keintiman mereka dan merebut kembali fokus Julian, membuat Sarah muak. Anak dari kekasihnya ini selalu dimanja dan menjadi pusat perhatian Julian—hal yang sialan dan membuat Sarah membenci William dalam diam.

Sedangkan William menunduk dan tersenyum sinis melihat kedua orang di depannya saling menempelkan bibir. Betapa munafiknya mereka?

Julian kembali menyelesaikan makanannya, lalu menyeka mulutnya dengan tisu. Ekspresi santainya kini berubah menjadi instruktif.

"Dengarkan Ayah baik-baik, William. Reuni malam ini bukan hanya soal bertemu wajah lama," Julian berbicara dengan nada posesif yang khas. "Kau harus menggunakan acara ini sebagai acara sosial layaknya bisnis. Di sana, kau harus mencari orang-orang penting, orang dari keluarga terpandang. Jaringanmu adalah asetmu. Apalagi di dunia hukum, kau benar-benar harus menghadapi musuh seperti di medan perang, Will."

"Jangan kotori dirimu dengan orang-orang kasar, orang-orang yang tidak mengenal hukum atau moralitas, ingat ini," lanjut Julian, suaranya mengeras. "Kita tidak perlu mengorbankan karier kita. Kau sekarang adalah William Hayes, ingat kau harus menjadi seperti Hakim George. Setiap interaksimu harus mencerminkan integritas yang telah kita bangun. Paham, Nak? Ayah tidak ingin melihatmu dekat-dekat dengan sampah masyarakat, mereka hanya akan memperlambat kesuksesanmu."

Sarah hanya diam, tetapi giginya mengatup. William, di sisi lain, mengangguk patuh.

Betapa busuknya dia, William tertawa sinis dalam hati. Adrian, mentornya yang dihormati dan satu-satunya orang yang pernah ia kagumi, pergi dan dia sangat senang karena itu membuktikan idealismenya. Dia merayakan kematian itu sebagai kemenangan pribadinya. Dan sekarang, dia memaksaku untuk bertindak sebagai pelayan yang menjual diri di meja makan malam sosialnya. Sial, ini sangat menarik. Yah, Julian benar-benar inspirasinya.

"Aku akan mengikuti instruksi Ayah," kata William, berdiri dari kursi. "Aku tidak akan mengecewakanmu."

Julian memeluk William dengan hangat, sentuhan yang terasa lebih seperti menjamin kepemilikan. "Ayah tahu. Sekarang pergilah. Nikmati. Tapi ingat, setiap pergerakanmu adalah investasi."


****

Bar The Electric. Pukul 19.30 Malam.

Suasana di bar mewah yang disewa untuk acara reuni sekolah menengah itu penuh sesak dengan musik keras, tawa yang sedikit terlalu nyaring, dan aroma parfum yang bercampur dengan alkohol. Cahaya lampu neon berwarna ungu dan biru menambah aura glamour palsu pada keramaian.

William tiba tepat pada pukul 19.30. Dia tidak pernah mengulur waktu dari jadwal. Kehadirannya segera menarik perhatian, seolah ia membawa aura New York yang dingin dan mahal ke dalam ruangan yang panas dan ramai. Dulu di sekolah menengah, William Hayes bukanlah anak yang menonjol; ia adalah siswa yang sangat cerdas tetapi dingin dan tertutup, seorang anak yang tinggal bersam aayah tunggalnya. Kini, dia adalah seorang pria muda yang tinggi, tampan, dan memancarkan aura kesuksesan yang misterius.

Dalam beberapa menit, William dikelilingi. Kebanyakan dari mereka bukan teman dekatnya, tetapi orang-orang yang tertarik pada ketampanan dan aura kesuksesannya.

"Astaga, William! Kau benar-benar tidak berubah, wajahmu sangat tampan, sial!" kata Bae, seorang wanita dengan gaun ketat yang memamerkan belahan dada, matanya yang terlalu genit menatap William dari atas ke bawah. Di sebelahnya, Sissy, yang tampak sama seksi dan agresifnya, mengangguk setuju sambil memegang segelas Martini.

"Aku dengar kau pindah ke New York?" tanya Marcus, seorang pria dengan setelan yang terlalu ketat dan jam tangan stainless steel mencolok. Dia adalah tipe yang suka mendominasi percakapan. "Aku baru saja meluncurkan startup teknologi kecil, berbasis AI untuk fintech. Kami baru saja menyelesaikan putaran pendanaan awal. Lumayan lah. Kau sendiri, di sana sedang sekolah di mana sekarang? Atau jalur karier apa?"

"Aku bekerja di bidang hukum korporasi," jawab William singkat, ekspresinya tenang. "Aku memang meneruskan pendidikanku di sana."

"Bukankah kau sudah bekerja di Pemberton & Shaw atau kau tidak lulus?"

"Uhm, aku sudah lulus sebagai Associate di sana. Dan sebenarnya memiliki kesempatan untuk menjadi bagian mereka. Namun, aku harus meneruskan pendidikanku jika ingin ditempatkan di posisi senior."

"Jadi kau masih bersekolah sekarang?"

"Uhm," jawab William ambigu.

"Pemberton & Shaw? Wow, itu firma besar," seru Sissy, mendekat lagi. "Hukum korporasi pasti menghasilkan banyak uang, ya?"

"Lumayan," jawab William, seringai tipis muncul di sudut bibirnya.

"Tapi kalau kau sudah menempuh pendidikan di New York, apa kau akan kembali ke sini?"

"Entahlah, di sana cukup menarik. Aku juga dikenalkan dengan teman dari salah satu pengacara senior di Pemberton & Shaw. Jadi mungkin aku bisa menetap di sana dan bekerja bersamanya."

"Sial, kau sangat beruntung."

"Ayolah Sissy, bukan beruntung, tapi memang William hebat, ya kan sayang. Jadilah pengacara keluargaku saja."

Seorang mantan teman sekelas, yang kini bekerja sebagai broker real estat kelas menengah, Danny, berbicara dengan nada sombong, mencoba menarik perhatian dari Marcus. "Yah, tidak buruk. Hey will, aku sendiri hanya mampu membeli flat di Kensington, kecil memang, tapi view-nya bagus. Dua kamar tidur, tapi lokasinya premium. Itu semua tentang lokasi, kawan."

"Aku juga sudah membangun bisnisku sendiri, kau tahu, hanya jutaan dolar saja."

"Ayolah Danny, kau sangat kaya sekarang. Dan aku sangat buruk. Kalian tahu aku hanya mewarisi harta orang tuaku."

William mendengarkan semua flexing itu dengan sedikit meremehkan. Mereka berbicara tentang angka, view, pendanaan, dan lokasi, padahal mereka tidak tahu bahwa pemuda yang diremehkan mereka jauh lebih kaya. Sial, apa mereka kira profesinya hanya berhasil dengan menjilat?

William sendiri memiliki beberapa properti diluar, sebuah vila besar di New York, dan kekayaan yang jauh melampaui gabungan kekayaan semua orang di ruangan ini.

Yah, meskipun tidak memakai nama William dan itu kekayaannya karena berkecimpung dalam dunia bawah tanah, statusnya bahkan lebih tinggi dibanding orang tua mereka.

Ironis sekali, pikir William, meminum alkohol yang ia pegang. Mereka semua mencoba mengesankan dirinya dengan pencapaian yang Julian anggap sebagai standar minimum kesuksesan sosial. Itulah mengapa Julian menyuruhnya berinteraksi dengan mereka.

William Hayes di mata mereka hanyalah kasta terbawah dari pencapaian mereka. Bagi mereka, pengacara benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan kekayaan mereka. Padahal, di balik wajah sederhana pemuda di depan mereka, kenyataannya William lebih hebat dibanding apa yang mereka bayangkan seperti kesuksesan puncak.

Sikap posesif Julian yang menyuruh William mencari jaringan adalah hal paling lucu di antara semuanya. Orang-orang ini hanyalah pion. Meskipun William meremehkan orang-orang di sini, kenyataannya dia memang memerlukan mereka sebagai pionnya. Menjadi sosok yang murni, bersih sebagai branding dirinya memang harus memerlukan mereka. Ini cukup mengesankan. William tidak mencari koneksi, dia mencari sesuatu untuk bersembunyi. Ia mencari celah di dalam struktur moral Julian.

Ia tertawa dalam hati. Julian hanya melihat William sebagai bukti bahwa didikan Julian bisa mengalahkan genetik Adrian. Julian adalah seorang idealis yang bodoh, mabuk oleh kemenangan psikologisnya, dan William adalah hasil eksperimennya yang sempurna—sebuah senjata yang terprogram untuk mematuhi, tetapi beroperasi dengan kehendaknya sendiri.

William Hayes, sang moralis, mengangguk pada Marcus, memuji Sissy, dan memberikan senyum singkat kepada Bae. Dia memainkan perannya dengan cemerlang. Dia memastikan bahwa besok, di London tepatnya jaringan sosial mereka, desas-desus akan beredar: William Hayes, anak dari Julian Hayes, sangat sukses, sangat tampan, dan sangat berintegritas.

Tepat pukul 23.20, William pamit. Ia berjalan keluar dari hiruk pikuk bar, mengambil napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang dingin menghilangkan sisa aroma alkohol dan keangkuhan palsu. Sambil berjalan menuju mobil hitam yang sudah menunggu di tempat yang remang-remang, ia mengeluarkan ponselnya—model lama yang hanya ia gunakan untuk komunikasi rahasia.

Begitu ia berada di bayangan bangunan tinggi, ponselnya bergetar. Lampu layar menyinari wajahnya. Senyum lembutnya luntur seketika, digantikan oleh ekspresi yang kembali datar, dingin, dan mematikan—ekspresi dari mr.sinclair. orang yang ditakuti banyak petinggi.

Ada satu pesan masuk dari Nomor Tak Dikenal.

: Tuan, subjek dalam masa kritis.

William membaca pesan itu. William berada dalam emosi tinggi. Sial, kenapa harus kritis saat dia berada di sini.

Dia menyentuh layar, mengetik balasan singkat dan formal.

: Awasi terus. Aku kembali ke New York besok pagi. Kirimkan laporan status organ. Jika sampai ada masalah, bunuh semua dokter yang merawatnya.

William memasukkan kembali ponsel itu ke saku mantelnya. Di dalam mobil, ia menyandarkan kepala di jok. William tidak akan pernah membiarkan apa yang dia inginkan dan apa yang direncanakan gagal sedikit pun. Prinsipnya, bunuh saja semua yang membuat apa yang diinginkannya gagal.

Yah, pria sederhana yang dilihat selama ini hanyalah ilusi bagi semua orang. Cukup mengesankan bahwa William benar-benar menyembunyikan semuanya.


****

next>> https://archivebl.blogspot.com/2026/05/18.html

Comments