Boston, Massachusetts. Mei 2024. Adrian menatap pantulan dirinya di dalam wadah air sabun kotor yang ia tumpahkan saat mencuci kain pel. Itu bukan pantulan seorang dokter ahli bedah, bukan pula refleksi seorang seniman yang karyanya pernah dipuja. Itu adalah wajah seorang pria tua yang hanya bekerja kasar untuk mencari nafkah. Setiap hari yang ia jalani sejak 'masa rehabilitasi' yang tidak masuk akal ini, harga dirinya terkikis habis, jatuh ke dalam septic tank kehinaan yang tak termaafkan. Ia harus memasang keran, memperbaiki pipa bocor, dan—yang terburuk dari semuanya—menanggapi terjadinya remeh dari para penghuni rumah mewah yang menyewa jasanya. Mereka sebagai melihat sampah yang tak punya masa depan, seorang pria yang hanya layak mengurus kotoran. Padahal, tangan yang kini memegang kunci pas itu adalah tangan yang sama yang pernah memegang pisau bedah dengan presisi dewata, tangan yang mampu membedah kehidupan dari kematian. Kesempatan untuk menunjukkan keahliannya yang ...