Skip to main content

18

 




New York, United States. 1:00 AM

Kemarin, William Hayes meninggalkan London secepat ia tiba. Pertemuan itu, yang sukses dan penuh ironi, dengan Julian dan Sarah diakhiri dengan tawa palsu dan janji-janji masa depan yang cerah. Ia kembali ke New York, namun, kali ini, ia tidak menuju ke apartemen kecilnya yang berfungsi sebagai kedok mahasiswa yang sibuk, melainkan menuju kevilla miliknya, sebuah properti tersembunyi, benteng isolasi yang hanya dikenal oleh segelintir orang terpilih.

Properti itu terletak di wilayah rahasia Mr. Sinclair yang dihormati. Sebuah jaringan yang William kuasai melalui koneksi gelap yang diwarisi dan dikembangkan. Ini adalah wilayah yang sepenuhnya di luar kendali Julian Hayes; ini adalah wilayah William yang sesungguhnya.

Mobil hitam yang menjemputnya melaju melewati pintu gerbang setinggi dua meter. Vila itu sunyi, dingin, dan dikelilingi oleh hutan pinus yang lebat. William, yang kini kembali mengenakan setelan kasual, berjalan cepat menuju sayap terpencil di lantai atas. Wajahnya tidak memancarkan ketenangan; ada ketegangan dingin dari seorang Architect yang akan memeriksa fondasi proyeknya, fondasi yang paling rapuh.

Di sana, ia berhadapan dengan dua pengawal yang berpakaian hitam. Para pengawal membungkuk sekilas, lalu berjalan pergi, menghilang ke koridor. Di dalam ruangan, William bertemu dengan beberapa orang. Kepala staf medis, Dr. Ice, seorang dokter yang tampak ketakutan, menyambutnya di pintu. Staf medis di sini tidak mengenal waktu atau kehidupan pribadi. Jika Mr. Sinclair menghubungi mereka dan memberi tugas, mereka harus sigap. Kegagalan berarti bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga kehilangan nyawa—atau lebih buruk, menjadi Subjek eksperimen William berikutnya.

"Tuan, Anda datang," sapa Dr. Ice dengan nada lega sekaligus tegang. Ia tahu kehadiran William menuntut kesempurnaan.

William hanya mengangguk, melangkah melewati mereka. Di dalam ruangan, bau antiseptik yang tajam berpadu dengan aroma bunga lili segar—kontras yang sengaja diciptakan William untuk menipu indra. Ia menginginkan lingkungan steril, tetapi William juga ingin Adrian merasakan kontras antara kedamaian yang palsu dan kengerian yang menunggu.

Di tengah ruangan, di ranjang besar, terbaring sosok pria yang terlihat damai dalam tidurnya. Pria yang terlihat baik dan tidak menakutkan, jauh berbeda dengan Adrian Vance yang asli. Tubuh itu dipenuhi dengan selang infus, kabel, dan berbagai peralatan medis canggih yang memantau setiap detak jantung dan gelombang otak. Adrian terlihat pucat, tetapi tenang, jauh lebih baik dari wajahnya yang penuh tekanan dan arogansi saat ia menjadi tahanan.

"Tuan, keadaannya kembali stabil," kata Dr. Ice dengan suara tertahan.

"Ya, aku tahu," jawab William, suaranya datar, tanpa emosi, tetapi ada getaran antisipasi yang dingin di bawah permukaan. "Kalian pergilah. Pantau dari luar. Jangan ada yang mendekat sampai aku panggil."

Dr. Ice dan staf medis lainnya bergegas keluar, meninggalkan William sendirian bersama Subjek 001.

William menutup pintu dan menguncinya. Suara klik kunci itu adalah penutup tirai untuk babak baru yang ia ciptakan. Ia berjalan ke sisi ranjang Adrian, matanya menelusuri setiap garis wajah Adrian yang kini terlihat damai.

Damai. Sebuah ironi. William berpikir. Kau terlihat seperti orang suci, Ayah Adrian. Tapi aku tahu siapa kau sebenarnya. Dan aku tahu siapa diriku sekarang. Aku yang menciptakan kedamaian palsu ini untukmu.

William menyenderkan kepalanya ke tangannya yang bertumpu di tepi ranjang dan membelai leher Adrian dengan lambat. Sentuhan itu tidak memiliki kehangatan, hanya rasa kepemilikan yang murni. Ia mengamati tubuh Adrian dengan seksama, matanya yang tajam menelusuri setiap garis wajah dan memar yang mulai memudar.

"Kemenangan itu terasa kosong, Adrian," bisik William, suaranya mengandung pengakuan yang brutal. Ia mencondongkan tubuhnya, menempatkan wajahnya di samping telinga Adrian. "Julian dan yang lain merayakan kematianmu. Tapi mereka tidak mengerti. Aku tidak ingin kau mati. Kematianmu hanyalah untuk mereka yang membencimu. Tapi Lian jelas tidak ingin Ayah pergi."

William perlahan membuka kancing kemeja Adrian, memperlihatkan dada yang memiliki bekas sayatan panjang, pengingat permanen akan pertarungan dan kekalahan Adria. sangat kontras dengan leher bagian atas pria itu yang masih terlihat mulus. Perlahan, ia mengelus leher dan tubuh Adrian, sentuhannya lembut, namun penuh kepemilikan seolah berkata ini milikku.

'Sempurna. Kau adalah mahakarya yang kubentuk sendiri,' William berpikir. Obsesi William bukanlah tentang hasrat, melainkan tentang penguasaan total atas ciptaan Adrian—dirinya sendiri. 'Aku menjagamu, Ayah. Kau tidak akan membusuk di sel penjara kotor. Kau akan tidur dengan nyaman di ranjang mewah yang ku rawat.'

"Sayang, kamu sangat indah," gumam William, matanya memancarkan aura dingin yang mengagumkan. Ini bukan cinta, melainkan pengaguman seorang arsitek terhadap mahakaryanya yang paling berharga. "Aku telah menjagamu, Ayah. Aku telah memberimu kesempurnaan abadi. Kau akan hidup, untukku."

William membungkuk, mengecup kening Adrian yang dingin. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Adrian, membisikkan sesuatu dengan desahan yang terdengar seperti janji kejam dan kutukan yang keji. Janji yang akan memaksa Adrian bangun.

"Bangunlah, ayah. Lian menunggumu di sini."

Begitu bisikan itu selesai, neraka pecah.

Layar monitor di samping ranjang mulai menunjukkan reaksi berlebihan. Detak jantung Adrian melonjak drastis, gelombang otaknya bergetar kacau, dan tubuhnya tiba-tiba mengalami kejang. Seluruh ruangan dipenuhi dengan bunyi alarm yang memekakkan telinga. Tubuh Adrian, meskipun lumpuh dalam koma, merespons. Dia bereaksi terhadap sentuhan, terhadap bisikan itu. Dia menolak suara William.

Adrian, bahkan dalam alam bawah sadarnya yang paling dalam, tahu: William adalah takdir yang jauh lebih buruk daripada kematian. Jiwa Architect Adrian Vance menolak untuk kembali ke dunia yang dikuasai oleh muridnya sendiri.

"Sial!" William berteriak, amarahnya memuncak, topeng Architect yang sempurna retak. Kegagalan ini, penolakan ini, adalah penghinaan terbesar. William Hayes, pria yang baru, ditolak oleh milik-nya bahkan sebelum pria itu sadar. Dia turun dari ranjang dan menatap tajam tubuh Adrian yang bereaksi berlebihan.

Dia membuka kunci pintu dengan cepat dan membanting pintu itu.

"Cepat rawat dia, segera stabilkan!" perintah William, suaranya mengandung ancaman yang mematikan. Dr. Ice dan staf medis bergidik. "Apa yang kalian lakukan?! Cepat rawat dia. Jika ada kerusakan yang tidak bisa diperbaiki, aku akan memastikan kalian menggantikannya!"

Sebuah senyum dingin, tipis, dan mematikan muncul di wajah William, jauh lebih mengerikan daripada teriakan emosi. Ia membungkuk ke arah Dr. Ice. "Jika dia kesakitan, aku akan membalas kalian. Dan aku jamin, balasanku jauh lebih indah dibanding hari bahagia kalian. Aku akan memastikan kalian menjadi Subjek selanjutnya."

Ancaman itu bekerja. Para profesional medis itu bergegas merawat Adrian, berusaha menenangkan badai kehendak yang diciptakan oleh satu bisikan. William kesal, memilih pergi, meninggalkan kekacauan medis yang panik di belakangnya.

Saat berjalan keluar, Lisa, kepala staf yang selalu efisien, muncul. Lisa yang kita kira hanyalah bawahan William itu ternyata adalah murid satu-satunya William dan perwakilan Mr. Sinclair—dikenal sebagai The Quiet Needle.

William melihat sekilas laporan Lisa mengenai jadwal penting di luar New York, dan ia mengerti implikasinya. "Bagus. Aku bisa tanganin itu. Aku akan kembali kesana, kau bisa ikut. kita akan pergi seminggu lagi."

Lisa, yang sudah terbiasa dengan perubahan rencana mendadak ini, hanya mengangguk. "Tuan, apa Anda yakin? Mereka ingin kau bergabung Tuan. Ini akan sangat menyita waktu."

"Yah, aku akan menerimanya." William tersenyum dingin. Tawaran itu adalah sebuah langkah besar dalam penguasaannya.

"Lalu bagaimana dengan Tuan Adrian? Sepertinya Tuan Adrian mengalami reaksi keras. Jika kau bergabung, kau akan lebih sibuk."

"Reaksi keras? Itu hanya penolakan, Lisa. Itu bukti bahwa dia benar-benar Ayahku. Meskipun dia membenciku, dia tidak lemah bukan? Itu hanya sementara," jawab William, suaranya kembali dingin dan penuh perhitungan. "Aku harus kembali. Bagaimanapun juga, mereka keluargaku. Fasad harus tetap utuh, Lisa. Dan aku harus mendapatkan kekuasaan untuk memastikan tidak ada yang bisa menyentuh mahakaryaku."

William berjalan, menoleh sekilas ke arah kamar rawat Adrian. "Aku akan kembali sebelum Adrian bangun. Aku harus kembali ke mereka. Bukankah itu akan menarik? William Hayes, Associate yang sempurna, kembali untuk mengunjungi 'keluarga'nya, sementara Ayah yang ia cintai berada di bawah kendalinya."

"Baik, Tuan. Saya akan mengurusnya."

"Urus mereka. Jika ada yang mengacau, kau jelas tau kan, Lisa? Pastikan tidak ada yang tahu tentang tempat ini atau Adrian," William tersenyum dan memandang arah kamar rawat Adrian. Dia memilih kembali ke apartemen kecilnya sebagai tempat tinggal sang golden boy milik julian. Meninggalkan villa dan Subjeknya yang baru saja menolaknya mentah-mentah.

Di dalam mobil, ia mengepalkan tangan di pangkuannya.

'Ayah, kenapa kau bereaksi berlebihan? ' jerit William kesal dalam hati. 'Aku hanya ingin kau bangun. Aku hanya ingin kau menjadi milikku.'

William, sang Architect yang baru saja gagal, Mr. Sinclair, harus meninggalkan medan perangnya. Ia harus kembali memakai topeng Golden Boy yang seseorang ciptakan untuknya—topeng yang ia kenakan untuk karirnya dan untuk memanipulasi Julian.

Lalu, beberapa hari lagi, William akan mengenakan Topeng Lama yang ia kenakan dengan singkat hanya untuk membalas kebaikan orang itu. Topeng yang ditakuti karena kemunculannya dan menjadi legenda dan awal di mana dia diakui menjadi bagian mereka. Sang Iblis Tersenyum akhirnya akan kembali bangkit dan kembali ke sarangnya.

Mulai sekarang dia akan kembali ke keluarganya, sembari menunggu Subjeknya. Subjek yang kini telah terbukti, bahkan dalam koma, memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menolak Sang pemilik. 


****

next>>https://archivebl.blogspot.com/2026/05/19.html

Comments

Popular posts from this blog

Perfect Camouflage

Boston,Massachusetts. Enam Bulan Kemudian. Sidang banding Adrian Vance di Pengadilan Tinggi Massachusetts terasa seperti tontonan sirkus yang cepat dan direkayasa—bukan di mata publik, melainkan di mata Adrian Vance sendiri. Ini bukan perjuangan legal; ini adalah peningkatan kontrol yang sangat mahal. Pengacara yang menyediakan  The Veritas Group (TVG),  seorang wanita tampil dingin dengan gelar Ivy League dan reputasi memenangkan kasus yang mustahil, tidak berdebat tentang kepolosan Adrian, melainkan tentang ketidaksempurnaan sistem dan jaminan bahwa kliennya telah sepenuhnya direhabilitasi. Argumennya sangat hati-hati: "Tuan Vance adalah korban dari narasi sensasional media dan kesalahan prosedur investigasi. Tuduhan pembunuhan berantai tidak pernah terbukti; yang tersisa hanyalah syuting  malpraktik  yang parah. Kami menuntut keadilan bagi klien kami, dan kesempatan bagi klien kami untuk memberikan kontribusi pada masyarakat dengan menjauhi bidang medis dan menj...

21

  London. Somerset House. Akhir Musim Semi, 2029. Somerset House berdiri dengan kemegahan neoklasik yang angkuh di tepi Sungai Thames, menjadi saksi bisu atas sebuah perjamuan yang bagi dunia luar adalah simbol cinta, namun bagi William Hayes adalah sebuah pemakaman moral. William berdiri di sudut ruang resepsi, memegang gelas sampanye kristal dengan ujung jari yang tenang. Ia mengenakan tuksedo  bespoke  hitam yang membungkus tubuhnya dengan presisi seorang pembedah. Ia tidak menyentuh minumannya. Matanya yang dingin dan tajam mengamati kerumunan elit London seolah mereka adalah spesimen di bawah mikroskop. Hari ini adalah pernikahan Julian Hayes dan Sarah. William memasang senyumnya, senyum yang dirancang khusus untuk acara sosial: terbuka, menghargai, dan sama sekali kosong. Ia harus mempertahankan identitasnya sebagai  Golden Boy . Dunia harus melihatnya sebagai putra angkat yang berbakti, yang terbang jauh-jauh dari New York untuk merayakan kebahagiaan ayahnya y...

BAB 01: The First Law

  Boston, Massachusetts, 2001. Udara di ruang bedah di Asclepius Teaching Hospital tidak beraroma ambisi dingin, tetapi penuh kehormatan. Di jantung pusat medis bergengsi Boston, pisau bedah terasa seperti perpanjangan dari tangan para dewa. Dr Julian Hayes, seorang dokter residen muda yang menjanjikan dalam spesialisasi bedah kardiotoraks, berdiri di samping meja operasi. Matanya dipenuhi idealisme murni saat mengamati mentornya, Dr. Adrian Vance. Adrian adalah sebuah karya seni di ruang operasi. Gerakannya presisi, tenang, dan cepat. Ia mengoperasikan jantung seperti seorang pianis memainkan sonata. Ia adalah legenda yang berjalan di koridor rumah sakit-sosok yang disanjung, disegani, bahkan ditakuti. Bagi Julian, Adrian adalah segalanya. Bukan hanya mentor bedah yang mengasah keterampilannya; ia adalah sosok kakak, bahkan ayah. Julian, yang yatim piatu, menemukan keterikatan emosional di sekeliling Adrian. Istri Adrian, Elara, seorang wanita yang anggun dan lembut, sering mengun...