Skip to main content

21

 




London. Somerset House. Akhir Musim Semi, 2029.

Somerset House berdiri dengan kemegahan neoklasik yang angkuh di tepi Sungai Thames, menjadi saksi bisu atas sebuah perjamuan yang bagi dunia luar adalah simbol cinta, namun bagi William Hayes adalah sebuah pemakaman moral.

William berdiri di sudut ruang resepsi, memegang gelas sampanye kristal dengan ujung jari yang tenang. Ia mengenakan tuksedo bespoke hitam yang membungkus tubuhnya dengan presisi seorang pembedah. Ia tidak menyentuh minumannya. Matanya yang dingin dan tajam mengamati kerumunan elit London seolah mereka adalah spesimen di bawah mikroskop.

Hari ini adalah pernikahan Julian Hayes dan Sarah.

William memasang senyumnya, senyum yang dirancang khusus untuk acara sosial: terbuka, menghargai, dan sama sekali kosong. Ia harus mempertahankan identitasnya sebagai Golden Boy. Dunia harus melihatnya sebagai putra angkat yang berbakti, yang terbang jauh-jauh dari New York untuk merayakan kebahagiaan ayahnya yang akhirnya menemukan pelabuhan setelah bertahun-tahun berkorban demi karir dan "menyelamatkan" anak angkatnya.

Julian tampak berseri-seri. Wajah pria itu, yang biasanya tegang oleh bayangan idealisme dan kekhawatiran yang naif, kini tampak santai. Kebahagiaan yang tulus terukir di sana—jenis kebahagiaan membosankan yang membuat William ingin tertawa. Julian, pria yang selama hampir dua dekade berusaha menjadi kompas moral William, kini telah menemukan titik fokus baru. Ia menemukan Sarah, wanita yang memberinya kedamaian, bukan kekacauan yang selalu dibawa oleh genetik Vance.

Julian akhirnya menyerah. Ia berhenti mencoba menyelamatkan William karena ia merasa tugasnya sudah selesai.

"William, lihatlah dirimu," sebuah suara berat dan serak memecah lamunan William.

Hakim George dan Dr. Robert Sullivan mendekat. Dua pria tua itu adalah pilar masa lalu Julian di Boston. George, sang hakim federal yang pernah menyembunyikan organ Adrian di tas bekalnya demi "keadilan yang lebih besar," tampak anggun dalam jas abu-abunya. Di sampingnya, Robert—mantan kepala rumah sakit yang masih merasa dikhianati oleh kejeniusan Adrian yang sesat menatap William dengan tatapan yang sulit diartikan.

Robert menepuk bahu William dengan kasar, hampir membuat sampanye di gelas William bergetar. "Kau adalah bukti hidup bahwa Julian adalah orang suci, Nak," ujar Robert dengan nada tajam yang tidak pernah berubah. "Dulu, saat Julian bersikeras ingin mengambilmu, kami semua ragu. Kami pikir 'darah buruk' akan selalu menang. Tapi lihat kau sekarang. Pengacara sukses. Julian benar-benar mengalahkan takdir."

William tersenyum, tipe senyum yang dirancang untuk membuat pria-pria tua ini merasa bijak. "Ayah Julian memang memiliki kesabaran yang luar biasa, Dr. Robert. Tidak banyak orang yang mau memelihara.....apa yang kalian sebut 'darah buruk' hingga menjadi sesuatu yang berguna."

"Tentu saja!" Robert menimpali, suaranya meninggi, menarik perhatian beberapa tamu. "Dia mendidikmu dengan tangan besi bermoral. Kau sukses karena dia. Ingat itu. Jika bukan karena Julian, kau mungkin sudah membusuk di sistem panti asuhan atau mengikuti jejak... ah, lupakan."

William mengangguk kecil, meski di dalam kepalanya, ia sedang membayangkan betapa indahnya jika ia membedah pita suara Robert agar pria itu berhenti menggonggong tentang moralitas. Bagi William, Robert hanyalah pengecut yang bungkam demi reputasi rumah sakitnya.

George, yang lebih tenang, menatap William dengan mata seorang hakim yang sedang menilai terdakwa. "Dunia hukum New York itu kejam, William. Tapi selama kau memegang integritas yang diajarkan Julian, kau akan aman. Hukum bukan hanya soal menang, tapi soal menjaga tatanan."

William hanya tersenyum tipis. 'Tatanan?'  William-lah yang menciptakan tatanan barunya sendiri di New York.

Tak lama kemudian, Julian mendekat. Ia tampak berseri-seri, wajahnya yang biasanya tegang kini rileks. Ia merangkul bahu William dengan kebanggaan yang nyaris bersifat posesif. Julian kemudian berbisik lembut pada Sarah, pengantinnya, meminta wanita itu untuk menyapa tamu lain sebentar.

Begitu Sarah menjauh dengan kilatan kebencian yang sempat ia tujukan pada William, Julian tertawa lepas. Ia menarik William ke tengah lingkaran teman-teman lamanya dari Boston.

"Semuanya, kalian kenal William, bukan?" Julian berseru dengan suara lantang, mengabaikan fakta bahwa mereka sudah saling mengenal. "Putraku ini baru saja memenangkan kasus besar. Dia tidak hanya mewarisi moralku, tapi dia melakukannya dengan integritas total. Aku bisa mati dengan tenang sekarang."

Seorang rekan Julian menyeletuk, "Oh, kau anak Julian. Kenapa tidak mengikuti jejak ayahmu menjadi dokter?"

"Tidak, tidak," Julian memotong dengan cepat sebelum William menjawab. "Kita sebagai ayah harus mendukung apa yang diinginkan putra kita, bukan? William memilih jalan yang berbeda untuk menegakkan keadilan."

"Julian, kau benar-benar hebat," sahut tamu lain. "Jadi, apa ibunya juga sehebat itu?"

Julian tersenyum ramah, namun ada kilatan gelap di matanya saat teringat wanita yang dulu ia anggap sebagai kakak, sebelum Adrian menghancurkan segalanya. "Yah... dia wanita yang sangat hebat. Sayangnya, dia harus pergi lebih dulu."

William menatap Julian. Ia tahu persis apa yang dipikirkan Julian. Julian menganggap dirinya pemenang. Dia merasa telah mencuri William dari pelukan iblis bernama Adrian dan membentuknya menjadi "malaikat" versinya sendiri. Julian membanggakan William bukan karena cinta, tapi karena William adalah trofi kemenangannya atas Adrian Vance.

Di mata Julian, Adrian telah kalah. Adrian sudah mati sebagai sampah, sementara dia, Julian, berdiri di Somerset House sebagai pahlawan yang berhasil mengubah "anak iblis" menjadi "Golden Boy." Tidak ada yang lebih munafik daripada Julian Hayes di detik ini.

William melangkah menjauh saat Julian tenggelam dalam nostalgia masa lalu. Ia berjalan menuju koridor balkon, namun langkahnya terhenti oleh sosok bergaun putih.

Sarah.

Dia berdiri di sana dengan aura kekuasaan yang halus. Sarah adalah wanita cerdas yang telah berhasil membedah kerentanan Julian. Bagi Sarah, William adalah parasit yang mengancam kedamaian keluarganya.

"William," Sarah memulai, suaranya dingin dan tajam. "Julian sangat bangga padamu. Tapi kita berdua tahu, kau adalah pengalih perhatian yang terlalu besar baginya. Aku sudah meyakinkan Julian bahwa tugasnya padamu sudah selesai. Dia tidak perlu lagi mengawasimu setiap detik seperti anak kecil yang takut tersesat."

William mendekat, membiarkan bayangannya menutupi Sarah. "Aku setuju, Ibu. Kau telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam mencuci otaknya. Kau mengubah fokusnya dari 'menyelamatkan aku' menjadi 'membangun istana pasir' bersamamu."

Sarah menegang saat William menyebutnya 'Ibu'. "Aku bukan ibumu. Dan satu hal lagi... aku baru tahu dari Dr. Robert tadi tentang asal-usulmu yang sebenarnya. Anak adopsi dari pria seperti itu? Menjijikkan. Jadi, lebih baik kau tetap di New York. Jangan bawa kegelapanmu ke dalam hidup Julian lagi."

William tersenyum, sebuah senyum yang membuat Sarah mundur satu langkah. "Jangan khawatir. Aku tidak tertarik pada Julian lagi. Tapi saranku untukmu, jangan sampai kau memperlihatkan wajah aslimu yang penuh kebencian ini di depan suamimu. Ayah Julian sangat memuja ilusi kedamaian. Jika dia tahu kau sama liciknya dengan pria-pria yang dia benci... dia mungkin akan sangat kecewa."

Sarah terpaku, tidak mampu membalas ancaman halus itu. William melangkah pergi, meninggalkan aroma sampanye dan ancaman di belakangnya.

William menatap Sungai Thames dari balkon. Pernikahan ini adalah penutup tirai. Julian, George, dan Robert adalah tiga serangkai pria "suci" yang merasa telah memenangkan perang moral. Mereka tidak tahu bahwa "anak manis" yang mereka banggakan adalah orang yang telah membedah Adrian Vance dan memanen organnya.

Pernikahan ini adalah pelepasan resmi Julian atas William. Dan William merasakan kebebasan yang sesungguhnya. Tidak perlu lagi menjaga fasad demi inspirasi Julian.

'Kalian semua merasa telah menang,' pikir William. 'Padahal dibanding pria pembunuh, orang munafik yang menganggap dirinya jauh lebih suci bahkan lebih menjijikan.'

Keesokan harinya, William kembali ke New York.

***

Vila New York. 10.05 am.

Saat turun dari pesawat pribadi, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel William dari Cleo, asisten medis yang kini memegang kendali penuh di vila menggantikan Dokter Ice.

"Tuan, tuan adrian mengalami kecelakaan kecil tadi. Sudah dijahit."

William menutup ponselnya dengan tenang. Cleo adalah wanita yang efisien—tanpa empati, tanpa suara, murni mesin biologis. William menyukai Cleo justru karena Cleo tidak pernah bertanya harus apa. Cleo pasti akan memutuskan yang terbaik untuk pasiennya.

Sekitar 1 setengah jam dari bandara, akhirnya william tiba juga divilla miliknya.

Saat William memasuki kamar utama, aroma antiseptik tajam menyengat. Adrian terbaring di ranjang dengan wajah pucat, tangan kirinya memegang sisi perutnya. Di sudut ruangan, seorang wanita berpakaian medis putih berdiri diam. Rambutnya diikat sangat rapi, matanya datar tanpa emosi. Itulah Cleo. Dia tidak menatap William, dia hanya menatap data di tablet medisnya.

"Daddy, kau tidak apa-apa?" tanya William lembut, mendekat ke ranjang.

Adrian mendengus sinis, meski suaranya lemah. "Gelas kristalmu itu licin, Lian. Kualitas yang buruk untuk sebuah vila semahal ini," desis Adrian, masih sempat menghina selera William meski perutnya baru saja robek. "Aku terjatuh tepat di atas pecahannya. Cleo bilang lukanya cukup dalam, tapi dia sudah membereskannya.

William menyingkap sedikit selimut, melihat perban yang melingkar di perut Adrian. Cleo telah melakukan tugasnya dengan sangat rapi. Benar benar seperti jika dibiarkan beberapa bulan jahitan itu mungkin akan menyatu yah serapi itu. 

"Kau harus lebih hati-hati, Dad," bisik William, suaranya sarat akan kasih sayang dan penuh lemah lembut. "Untung Cleo ada di sini."

William menarik Adrian ke dalam pelukannya. Adrian, yang merasa berkuasa setelah kejadian di malam badai sebelumnya, membalas dengan ciuman agresif yang memicu gairah.

"Jadi, Julian akhirnya menikah?" tanya Adrian setelah melepaskan tautan bibir mereka.

"Yah. Dia merasa telah menjadi orang paling suci di dunia hari ini," jawab William.

Adrian tertawa kecil, tawa penuh kebencian narsistik. "Pria bodoh. Dia bangga dengan kemenangannya, tanpa sadar bahwa selama ini dia memelihara monster yang jauh lebih besar dari apa yang pernah aku bayangkan. Dia menang dari aku, tapi dia kalah dari kau, Lian."

William hanya tersenyum tipis, jarinya mengusap pinggiran perban di perut Adrian dengan sangat hati-hati. Di sudut ruangan, Cleo tetap diam membeku. Matanya yang kosong tidak beralih dari layar tablet medis, mencatat ritme jantung Adrian yang berdenyut stabil di atas ranjang. Kesunyian di kamar itu terasa jauh lebih pekat daripada biasanya.

***



Comments

Popular posts from this blog

Perfect Camouflage

Boston,Massachusetts. Enam Bulan Kemudian. Sidang banding Adrian Vance di Pengadilan Tinggi Massachusetts terasa seperti tontonan sirkus yang cepat dan direkayasa—bukan di mata publik, melainkan di mata Adrian Vance sendiri. Ini bukan perjuangan legal; ini adalah peningkatan kontrol yang sangat mahal. Pengacara yang menyediakan  The Veritas Group (TVG),  seorang wanita tampil dingin dengan gelar Ivy League dan reputasi memenangkan kasus yang mustahil, tidak berdebat tentang kepolosan Adrian, melainkan tentang ketidaksempurnaan sistem dan jaminan bahwa kliennya telah sepenuhnya direhabilitasi. Argumennya sangat hati-hati: "Tuan Vance adalah korban dari narasi sensasional media dan kesalahan prosedur investigasi. Tuduhan pembunuhan berantai tidak pernah terbukti; yang tersisa hanyalah syuting  malpraktik  yang parah. Kami menuntut keadilan bagi klien kami, dan kesempatan bagi klien kami untuk memberikan kontribusi pada masyarakat dengan menjauhi bidang medis dan menj...

BAB 01: The First Law

  Boston, Massachusetts, 2001. Udara di ruang bedah di Asclepius Teaching Hospital tidak beraroma ambisi dingin, tetapi penuh kehormatan. Di jantung pusat medis bergengsi Boston, pisau bedah terasa seperti perpanjangan dari tangan para dewa. Dr Julian Hayes, seorang dokter residen muda yang menjanjikan dalam spesialisasi bedah kardiotoraks, berdiri di samping meja operasi. Matanya dipenuhi idealisme murni saat mengamati mentornya, Dr. Adrian Vance. Adrian adalah sebuah karya seni di ruang operasi. Gerakannya presisi, tenang, dan cepat. Ia mengoperasikan jantung seperti seorang pianis memainkan sonata. Ia adalah legenda yang berjalan di koridor rumah sakit-sosok yang disanjung, disegani, bahkan ditakuti. Bagi Julian, Adrian adalah segalanya. Bukan hanya mentor bedah yang mengasah keterampilannya; ia adalah sosok kakak, bahkan ayah. Julian, yang yatim piatu, menemukan keterikatan emosional di sekeliling Adrian. Istri Adrian, Elara, seorang wanita yang anggun dan lembut, sering mengun...