Skip to main content

BAB 01: The First Law

 Boston, Massachusetts, 2001.

Udara di ruang bedah di Asclepius Teaching Hospital tidak beraroma ambisi dingin, tetapi penuh kehormatan. Di jantung pusat medis bergengsi Boston, pisau bedah terasa seperti perpanjangan dari tangan para dewa.

Dr Julian Hayes, seorang dokter residen muda yang menjanjikan dalam spesialisasi bedah kardiotoraks, berdiri di samping meja operasi. Matanya dipenuhi idealisme murni saat mengamati mentornya, Dr. Adrian Vance.

Adrian adalah sebuah karya seni di ruang operasi. Gerakannya presisi, tenang, dan cepat. Ia mengoperasikan jantung seperti seorang pianis memainkan sonata. Ia adalah legenda yang berjalan di koridor rumah sakit-sosok yang disanjung, disegani, bahkan ditakuti.

Bagi Julian, Adrian adalah segalanya. Bukan hanya mentor bedah yang mengasah keterampilannya; ia adalah sosok kakak, bahkan ayah. Julian, yang yatim piatu, menemukan keterikatan emosional di sekeliling Adrian. Istri Adrian, Elara, seorang wanita yang anggun dan lembut, sering mengundangnya makan malam, mengisi kebutuhan emosional Julian dengan kehangatan yang telah lama hilang.

"Kau terlalu membiarkan emosi menguasaimu, Julian," kata Adrian pada suatu malam di ruang bedah, terdengar tenang, namun mengandung otoritas mutlak. "Pisau bedah adalah alat, bukan kuas emosi. Kau harus mengendalikan detak jantung, bukan merasakannya. Ketenangan total adalah superioritas pertama."

Julian hanya mengira Adrian sedang mengajarkannya tentang ketenangan profesional yang ekstrem. Ia tidak tahu Adrian sedang mengajarkannya hukum pertama psikopati: batasan total antara tindakan dan perasaan.

Kehidupan Adrian terlihat sempurna: karier tak tertandingi, rumah mewah, dan Elara selalu menunggunya pulang. Julian melambangkan "cinta" mereka, tetapi yang ia saksikan bukanlah cinta. Adrian tidak mencintai Elara; ia mencintai potensi genetiknya. Elara adalah wadah sempurna untuk melahirkan warisan genetik yang ia yakini tak tertandingi.

“Aku membutuhkan keturunan yang sempurna, Elara,” bisik Adrian suatu malam di rumah. "Setidaknya dia akan menjadi cermin kejeniusanku. Dia akan menggantikanku dan mendominasi dunia yang tak sanggup kupahami."

Elara hanya tersenyum tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya. Ia mencintai Adrian, tidak peduli betapa dinginnya pria itu. Ketika putra mereka, William, lahir, Adrian menganggap misinya telah selesai. William adalah cerminnya, proyeknya, dan mahakarya genetiknya yang paling berharga.

---

Tahun 2006 .

William berusia lima tahun, dan fondasi yang dibangun Adrian mulai retak.

Julian, kini telah menjadi Kepala Residen dan hampir menyelesaikan spesialisasi bedahnya, mulai melihat anomali. Adrian menjadi semakin sulit diprediksi. Di ruang bedah, ia mengambil risiko yang tidak perlu, menantang takdir, dan di rumah, ia mengabaikan Elara.

Suatu sore, Julian menemukan Elara di ruang istirahat dokter, tangisnya histeris dan teredam.

“Julian… William… William…tidak menangis…,” isak Elara. "Aku melihatnya, anakku tidak bereaksi saat kucing mati di depannya. Adrian... Adrian tidak peduli! Dia bilang itu adalah bukti superioritas genetiknya! Dia bilang William akan menjadi penerus dari segalanya! Apa yang dia maksud Julian!"

Kekaguman Julian terhadap Adrian goyah dan digantikan oleh rasa takut yang dingin.

Beberapa minggu kemudian, skandal itu meledak, jauh lebih besar dari sekadar malpraktik.

Kasus 'kelalaian bedah' mulai muncul. Pasien kaya dan berpengaruh yang dioperasi Adrian meninggal dalam kondisi misterius, dengan temuan forensik yang aneh. Bukan salah operasi, melainkan modifikasi di meja operasi-penghapusan organ vital yang disamarkan dengan sempurna, menyerupai komplikasi langka. Adrian menggunakan pisau bedahnya sebagai alat pembunuh yang tak terdeteksi, didorong oleh hasratnya untuk mendominasi dan mengendalikan kematian.

Surat kabar menjulukinya "The Surgeon Killer," sementara penyelidik federal mengirimkan koneksinya dengan sindikat global yang lebih besar, namun tidak ada bukti.

Saat polisi menggerebek rumah Adrian, Julian datang. Ia menemukan Elara pingsan di lantai sambil memegang boneka tangan William. William, yang berusia lima tahun, berdiri di sudut gelap. Mata yang abu-abu menatap kekacauan itu dengan ketenangan yang menakutkan, tanpa setetes air mata atau reaksi.

Adrian Vance tidak melawan. Ia hanya menatap Julian, senyum dingin dan puasnya yang terakhir terukir di wajahnya.

"Julian, Julian. Kau terlalu banyak cinta. Aku selalu tahu, kelemahanmu adalah sentimentalitas. Tapi kau akan menjaganya, bukan? William butuh benteng yang kuat-seorang ayah yang stabil. Setidaknya kau akan hancur karena tidak bisa menghancurkan anak itu. Aku mempercayakan warisanku padamu." Adrian tersenyum miring, senyum seorang pemenang.

Julian benar-benar syok. Perubahan sikap Adrian begitu tiba-tiba, begitu manipulatif. Mentor yang ia idolakan, kakak yang ia percayai, ternyata adalah monster yang sempurna.

"Kenapa, Adrian? Kenapa kau melakukan ini pada Elara... pada William?" Julian tidak hanya kecewa, ia merasa dikhianati hingga ke inti idealismenya.

"William adalah penerusku, Julian. Dia adalah Genetik ku. Kalaupun aku tertangkap, anak itu masih akan menjadi penggantiku. Aku hanya mengambil langkah awal untuk membuktikan bahwa kekuatan sejati adalah mengendalikan hidup dan mati. Kecuali kau membunuh. Apa kau mampu? Haha lucu, membunuh hewan saja kau tampak menakutkan."

Adrian kemudian dibawa pergi. Elara, yang jiwanya hancur, meninggal beberapa bulan kemudian karena depresi, meninggalkan William kecil sendirian.

Kekalahan Adrian adalah kehancuran idealisme Julian. Kekalahan Adrian adalah trauma dan cetak biru yang membentuk William. Dan mengecewakan Julian terhadap Adrian, senior yang ia puja, berubah menjadi tekad yang membara: ia harus menyelamatkan William, demi membuktikan bahwa Cinta Julian lebih kuat dari Genetik Adrian.

***

' Warisan Sang Ahli Bedah: Beberapa luka tidak akan pernah bisa ditutup.'


Next>> https://archivebl.blogspot.com/2025/12/the-project.html

Comments

Popular posts from this blog

Perfect Camouflage

Boston,Massachusetts. Enam Bulan Kemudian. Sidang banding Adrian Vance di Pengadilan Tinggi Massachusetts terasa seperti tontonan sirkus yang cepat dan direkayasa—bukan di mata publik, melainkan di mata Adrian Vance sendiri. Ini bukan perjuangan legal; ini adalah peningkatan kontrol yang sangat mahal. Pengacara yang menyediakan  The Veritas Group (TVG),  seorang wanita tampil dingin dengan gelar Ivy League dan reputasi memenangkan kasus yang mustahil, tidak berdebat tentang kepolosan Adrian, melainkan tentang ketidaksempurnaan sistem dan jaminan bahwa kliennya telah sepenuhnya direhabilitasi. Argumennya sangat hati-hati: "Tuan Vance adalah korban dari narasi sensasional media dan kesalahan prosedur investigasi. Tuduhan pembunuhan berantai tidak pernah terbukti; yang tersisa hanyalah syuting  malpraktik  yang parah. Kami menuntut keadilan bagi klien kami, dan kesempatan bagi klien kami untuk memberikan kontribusi pada masyarakat dengan menjauhi bidang medis dan menj...

21

  London. Somerset House. Akhir Musim Semi, 2029. Somerset House berdiri dengan kemegahan neoklasik yang angkuh di tepi Sungai Thames, menjadi saksi bisu atas sebuah perjamuan yang bagi dunia luar adalah simbol cinta, namun bagi William Hayes adalah sebuah pemakaman moral. William berdiri di sudut ruang resepsi, memegang gelas sampanye kristal dengan ujung jari yang tenang. Ia mengenakan tuksedo  bespoke  hitam yang membungkus tubuhnya dengan presisi seorang pembedah. Ia tidak menyentuh minumannya. Matanya yang dingin dan tajam mengamati kerumunan elit London seolah mereka adalah spesimen di bawah mikroskop. Hari ini adalah pernikahan Julian Hayes dan Sarah. William memasang senyumnya, senyum yang dirancang khusus untuk acara sosial: terbuka, menghargai, dan sama sekali kosong. Ia harus mempertahankan identitasnya sebagai  Golden Boy . Dunia harus melihatnya sebagai putra angkat yang berbakti, yang terbang jauh-jauh dari New York untuk merayakan kebahagiaan ayahnya y...