New York, Amerika Serikat. Awal Tahun 2026.
Di rumah baru milik pamannya, tempat yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekat William Hayes sedang menikmati momen di mana ia bisa melepas segala topeng. Rumah mewah namun hanya memiliki beberapa warna saja, bahkan tidak ada taman bunga. Ini memang benar-benar selera pamannya. William bahkan merekomendasikan pamannya untuk mulai mengoleksi barang antik juga di rumah ini.
Paman William, yang dikenal dengan nama Dean, duduk di seberangnya sambil menyalakan cerutu. Sebagai salah satu jaringan kunci sekaligus mentor yang membentuk logika William, Dean adalah sedikit dari orang yang bisa melihat sisi asli keponakannya di balik persona Golden Boy. William duduk di sofa mahal, tetapi matanya memancarkan ketidakpuasan yang tajam.
"Will, bagaimana dengan pasanganmu?" tanya Dean, asap cerutu membubung di antara mereka.
"Dia masih belum bangun, Paman. Aku benar-benar membencinya. Kenapa dia harus takut denganku? Atau dia tidak mau lagi menemuiku? Apa salahku?" William bertanya, nadanya dingin, dipenuhi frustrasi seorang Architect yang karyanya menolak untuk berfungsi.
"Tubuhnya jelas butuh pemulihan total setelah operasi besar itu. Aku cukup terkejut kau berhasil membuatnya tetap hidup," ujar Dean sambil mendecak lidah. "Kau benar-benar bertaruh dengan nyawa manusia di meja operasi itu."
"Yah, itu berkat metode Ayah Baptis."
"Jadi dia yang mengajarkannya? Sial, mengejutkan," Dean menatap keponakannya dengan rasa kagum yang aneh.
"Tidak juga. Bukankah saat itu ada tahanan yang dibebaskan? Kau ingat, Paman, Ayah Baptis menggunakan metode itu untuk menipu dunia? Bahkan aku ikut membantu." William menyeringai tipis. "Jadi aku tertarik menggunakannya juga."
"Tapi tahanan itu akhirnya mati, bukan? Sungguh sia-sia."
"Makanya aku mengembangkan metode itu. Aku tidak akan membiarkan dia mati tanpa seizinku."
Dean tertawa kasar. "Yah, kau menjadi lebih hebat. Sayangnya hanya kita yang tahu siapa kau sebenarnya, Will."
"Memangnya kenapa? Itu justru bagian yang menyenangkan," William mendengus. Ia lalu menatap pamannya dengan tatapan menyelidik. "Ngomong-ngomong, Paman, bagaimana kau berakhir mengajar di sana? Sial."
"Kau pikir pamanmu ini tidak berpendidikan, hah? Aku juga memiliki banyak gelar, Will," sang paman menendangkan kakinya ke arah William dengan keras, sebuah tindakan informal yang menunjukkan kedekatan dunia gelap mereka.
"Tapi aku akan lulus. Untuk apa kau di sana?"
"Aku juga butuh identitas. Kau pikir hanya kau yang punya persona yang ditunjukkan di publik, pamanmu tidak?"
Saat William asyik dengan obrolannya, Lisa menelepon.
"Kenapa?" tanya William tajam.
"Tuan, Tuan Adrian bangun," lapor Lisa dari seberang telepon.
Senyum William merekah lebar. Itu bukan senyum lega, melainkan senyum kepemilikan. Dean mendecak lidah, tahu bahwa keponakannya itu pasti sedang merayakan sesuatu yang mengerikan di kepalanya.
"Apa dia benar-benar bangun?" Dean mengonfirmasi.
"Uhm."
"Baiklah, kau sekarang akan sibuk dengannya dan kariermu. Biar Sabit Iblismu saja yang mengurus sisanya."
"Lisa, Paman. Sial, kau membuat gelar baru untuknya," William mendengus.
"Bagaimanapun juga, tidak mungkin dia tetap menggunakan identitas lamanya, Will. Identitas lain tidak boleh tumpang tindih, ingat kata Ayah Baptismu. Julukan Sabit Sang Iblis terdengar lebih elegan di telinga Jaringan. Dia adalah eksekutor yang sempurna untukmu."
"Yah, terserahmu saja," William berdiri, merapikan setelannya.
"Apa aku juga perlu membuatkan identitas palsu untuk kesayanganmu?"
"Tidak perlu. Dia harus hanya memilikiku."
"Bocah gila. Besok ada pertemuan, pakai topeng Iblis-mu. Kau akan segera kembali ke sarangmu."
"Oh, aku ingin menghabiskan waktu dengan kesayanganku."
"Yah, biar aku wakilkan."
"Baik, aku pergi." William, yang kini bersiap untuk kembali ke panggung besarnya, mengenakan aura dinginnya dan bergegas keluar.
Setelah William pergi, bawahan Dean masuk. "Bos, ada yang berkhianat."
"Bunuh saja. Dia cukup beruntung ditangani olehku. Jika bocah gila itu yang menanganinya, mungkin dia akan mati dalam ketakutan yang jauh lebih panjang."
Bawahan Dean tahu betul, sejak kemunculan tuan muda itu, semuanya berubah. Bahkan hanya dalam satu tahun mereka kembali menduduki puncak. Tuan muda itu benar-benar sesuai gelarnya sebagai Iblis Tersenyum. Dan senyumannya yang dingin benar-benar membawa neraka ke permukaan.
***
Vila William. 8.30 PM.
"Apa dia bangun?" William bertanya saat melangkah masuk ke dalam kamar yang dirancang khusus untuk Subjek 001.
"Sudah, Tuan. Namun tubuhnya masih belum bisa digerakkan," lapor perawat medis dengan takut-takut.
"Bagus. Aku akan merawatnya, kau pergilah."
William melihat Adrian yang kini kembali sadar. Ia merasa sangat puas karena Adrian masih hidup. Metode transplantasi organ ganda yang ia lakukan secara rahasia ternyata berhasil. Jika itu pamannya, mungkin objeknya justru akan mati. Tapi William adalah Architect yang berbeda.
"Ayah, kau sadar," William menyapa dengan nada yang dilebih-lebihkan, menatap wajah pucat Adrian.
"Yah... cukup kesal karena masih hidup," Adrian menjawab. Suaranya lemah, serak, tetapi kebenciannya tetap jernih.
"Ayolah, Ayah. Artinya Ayah masih ingin menjaga Lian, ya kan?" William terus memainkan sandiwaranya, duduk di tepi ranjang.
Adrian mengalihkan pandangannya, muak dengan akting "Lian" yang dibuat-buat itu. William membelai pipi Adrian; sentuhannya sangat lembut, kontras dengan kengerian yang ia tanamkan. Ia mencium Adrian—ciuman yang lambat, mengontrol, dan penuh kepemilikan. Adrian hanya bisa menerima, tubuhnya yang lumpuh total dari leher ke bawah menjadi penjara yang sempurna.
William menjauhkan bibirnya dan berbaring di sisi lain Adrian, menatap langit-langit dengan senyum tenang. "Aku tidak akan memaksamu hari ini, Ayah. Ayo, tidurlah."
****
New York, Juni 2026.
Hampir dua tahun telah berlalu—sebuah periode yang cukup panjang untuk membangun kebohongan mutlak di mata Julian Hayes.
Di London, Julian tenggelam dalam kelegaan yang luar biasa. William akhirnya lulus dan mendapatkan lisensi untuk kariernya di New York. Seniornya di Pemberton & Shaw memperkenalkan William ke temannya, dan William benar-benar diterima di kantor swasta milik teman seniornya tersebut sebagai Associate yang bersinar.
Seorang pengacara muda memang butuh koneksi yang luas agar dikenal, dan Julian sangat bangga akan hal itu. Namun, bagi William, menjadi Golden Boy bagi Julian adalah sebuah penderitaan yang harus ia tanggung demi menjaga identitasnya tetap utuh dan baik di mata dunia.
Julian sempat merayakan kelulusan William dengan meriah. Namun belakangan ini, Julian benar-benar disibukkan dengan Sarah yang semakin manja dan pekerjaan yang menumpuk. Julian mulai memikirkan kariernya; bagaimanapun juga Adrian sudah tidak ada di dunia, dan William sudah memiliki moralitas yang sesuai. Dia sangat bangga pada dirinya sendiri.
"Bagaimanapun juga, William sudah cukup bermoral untuk dilepas," kata Sarah saat itu, sebuah kalimat yang sangat ironis.
Di saat Julian bahagia dengan ilusi moralitas William, Adrian yang dibenci Julian justru menderita di New York, di bawah kendali penuh anak yang dianggap Julian sangat bermoral.
Beberapa bulan setelah dirinya sadar, pemulihan tubuh Adrian mulai menunjukkan kemajuan kecil. Berkat perawatan medis kelas atas, Adrian mulai bisa sedikit menggerakkan lengan dan tubuh bagian atasnya, meskipun kakinya masih tetap lumpuh dan lemah.
Siang ini, Adrian menikmati teh di balkon dengan kursi rodanya, menatap hutan pinus yang mengelilingi vila. Lisa berdiri diam di belakangnya, mengawasi setiap gerak-gerik sang tawanan. Adrian meminum tehnya dengan santai, mencoba mencari celah untuk melarikan diri secara mental, namun tiba-tiba William datang.
William memberi isyarat tajam, mengusir Lisa dari sana.
"Ayah, bagaimana kabarmu?" tanya William, mendekat dengan langkah ringan.
"Cukup bagus," jawab Adrian dingin tanpa menoleh.
"Ngomong-ngomong, lihatlah, aku membawakan sesuatu untukmu."
"Apa tidak ada minuman lain selain teh herbal dan semua sampah sehat yang kau beli, hah?" Adrian menyindir, matanya menatap tajam ke arah William.
"Kau harus menjaga kesehatanmu, Ayah. Aku tidak ingin kau mati lebih cepat."
William mendekat dan mencium singkat bibir Adrian. Adrian, yang kini sudah memiliki sedikit tenaga, mencoba menyingkirkan tangan William yang bersandar di kursi rodanya. Namun William tidak bergeming. Jelas, meskipun tubuh Adrian pulih, fisiknya tidak akan pernah bisa menandingi William yang sedang berada di puncak kekuatannya.
"Lian ingin itu, Ayah."
Suara William berubah, menjadi nada "Lian" yang menuntut. Tanpa memedulikan penolakan Adrian, William menggendongnya ke ranjang. Adrian yang kesal mencoba mencekik leher William dengan tangan yang masih gemetar. Namun, serangan itu tidak berguna.
Saat Adrian dilemparkan ke ranjang, William mengambil borgol di laci nakas dan mengunci kedua tangan Adrian ke kepala ranjang. William mencengkeram keras leher Adrian sebagai peringatan, matanya berkilat dingin.
"Lian tidak ingin kasar. Jadi diamlah, Ayah."
"Bajingan. Kau pikir aku akan diam?" desis Adrian, wajahnya memerah karena amarah.
William tidak menjawab. Ia mulai menelusuri leher Adrian dan menciumnya kembali dengan paksaan yang terukur.
'Ciumanmu cukup bagus sekarang, Lian. Namun hanya berisi obsesi bodohmu itu. Yah, kau hanyalah anak kecil yang memenangkan mainan yang ia inginkan,' Adrian mengejeknya dalam hati, mencoba menjaga harga dirinya tetap utuh di tengah penghinaan ini.
William berbisik di bibir Adrian, seolah menanggapi ejekan mental itu. "Kau menikmatinya, Ayah? Yah, kupikir kau membalas ciumanku dengan antusias..."
William mulai menyatukan tubuh mereka. Gerakannya sangat terukur, metodis, dan efisien. Tidak ada kasih sayang di sana, hanya dominasi mutlak. Adrian Vance, seorang ayah yang dulu mengajari anaknya cara menguras darah mangsa, kini menjadi mainan yang dikuras habis emosinya oleh anak itu.
Setiap dorongan William adalah penindasan. Setiap sentuhan William adalah pengakuan: Kau milikku.
Adrian merasakan tubuhnya bereaksi—respons yang sepenuhnya otonom, fisik yang dipicu oleh trauma dan gairah yang dipaksakan. 'Sialan. Tubuh pengkhianat! ' Kengeriannya berlipat ganda karena tubuhnya merespons kenikmatan yang tidak diinginkan pikirannya.
"Lihatlah, Ayah," William mendesis, mempercepat gerakannya, suaranya rendah dan serak di telinga Adrian. "Aku tahu kau membenci setiap detik ini. Aku tahu kau menghinaku, tetapi tubuhmu yang kau agung-agungkan justru berkhianat. Kau merasakan ini, Ayah. Kau merasakan kenikmatan, bukan?"
William menatap dalam ke mata Adrian, mencari pengakuan dari rasa sakit yang tercampur dalam gairah yang tidak terhindarkan. Pertarungan kehendak yang sunyi ini adalah gairah William yang sesungguhnya.
"Kau ingat bagaimana saat itu, Ayah? Lian tidak menyukai darah, dan kau benar-benar mengajari Lian untuk menguras darah mangsa lebih dulu. Ayah... Ayah... aku ingin kau terus mengajariku cara mengendalikan segalanya."
Adrian hanya bisa menahan napasnya, mencoba memfokuskan pikirannya pada kebencian murni agar tidak tenggelam dalam sensasi fisik itu. 'Tidak. Aku tidak akan menyerah. Kau hanyalah boneka yang kebetulan memegang kendali sekarang.'
William memuncak dengan kekuatan yang mutlak, sebuah pelepasan yang didominasi oleh kekuasaan dan ego sang Architect baru. Ia menundukkan Adrian sepenuhnya.
Setelah semuanya berakhir, William menarik diri dan memeluk Adrian dari samping. Itu adalah pelukan yang posesif, penuh kemenangan yang dingin.
"Itu bagus, Ayah," William bergumam, suaranya kembali datar dan tenang. "Ayah, kau tahu, Lian benci diatur dan dijadikan proyek moral. Kau tahu Ayah, mungkin muridmu, Julian, bangga padaku karena aku sukses di firma hukum. Dia tidak tahu, kesuksesan sejatiku adalah di sini. Di sisimu."
Adrian terlalu lelah untuk menanggapi kegilaan William. Tubuhnya terasa remuk, dan kakinya yang mati rasa terasa seperti beban yang sangat berat. Namun, tiba-tiba suasana di ruangan itu berubah.
"Shhh..." Adrian merintih pendek.
"Ayah?"
Wajah Adrian yang tadinya memerah tiba-tiba memucat drastis. Napasnya mulai pendek-pendek, tersedak seolah ada sesuatu yang mencekik paru-parunya dari dalam. Ia mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak dan sakit—sebuah peringatan dari jantung baru yang baru saja dipaksa bekerja di luar batas kemampuannya.
William panik. Topeng ketenangannya retak seketika. Ia segera melepaskan borgol Adrian dan berteriak memanggil Lisa untuk membawa staf medis ke kamar. William mengambil selimut, menutupi tubuh Adrian yang gemetar hebat.
Melihat Adrian yang berjuang untuk bernapas, William menyadari betapa rapuhnya garis antara kepemilikan dan kehilangan. Adrian Vance masih memiliki satu senjata terakhir untuk lepas dari William—dengan cara mati sebelum William selesai dengannya.
****
next>>https://archivebl.blogspot.com/2026/05/20.html

Comments
Post a Comment