New York, Hari Ketiga.
Pagi itu datang dengan kejam, tanpa belas kasihan cahaya fajar yang seharusnya membawa harapan. Adrian terbangun, bukan karena alarm atau suara gaduh, melainkan karena rasa sakit fisik yang begitu dalam hingga menembus tidur singkatnya yang dipaksakan.
Ia masih telanjang, hanya ditutupi oleh selimut sutra tipis yang terasa berat, seolah-olah kain itu terbuat dari timah yang memuat rasa malu dan kotor. Kepalanya berdenyut, setiap otot di tubuhnya terasa seperti telah diremukkan dan dibangun kembali secara paksa. Ia tidak mampu menyeimbangi Tuan Sinclair. Pak Sinclair masih muda, energinya tak terbatas, nafsunya dingin dan sistematis. Sementara Adrian, yang telah menua, yang bertahun-tahun hidup dengan tekanan dan kelelahan, hanyalah sisa-sisa dari dirinya. Malam itu adalah pengingat brutal atas kekalahannya.
Yang paling menjijikkan, yang mematikan alarm jauh lebih parah daripada obat penenang di nadinya, adalah kenyataan bahwa Mr. Sinclair sama sekali tidak menggunakan pengamanan. Cairan lengket, yang kini mengering dan terasa dingin di antara pahanya, adalah sisa-sisa pelempiasan kekejaman itu.
Bau sisa-sisa malam semakin menyengat. Adrian menatap kosong ke arah jendela besar disebrang yang masih tertutup korden.
Ia telah kehilangan banyak hal, namun itu hanyalah kehilangan kecil yang bahkan tidak menimbulkan duka. Namun, kali ini, yang hancur adalah sesuatu yang lebih mendasar dari sekadar ego: kehancuran seorang predator yang kini menjadi mangsa, kehancuran seorang pria lurus yang diperlakukan sebagai objek seksi. Ia merasa ternoda, direndahkan ke level yang lebih rendah dari mayat Elias yang ia jadikan patung—setidaknya Elias diabadikan, sementara Adrian diperkosa dan dikotori. Ia hanyalah wadah bagi kekejaman Mr. Sinclair.
Pikirannya kosong, tubuhnya lemas. Ia tidak bisa bergerak, hanya berbaring, membiarkan kehangatan yang menjijikkan dari tubuh di belakangnya merambat ke punggungnya. Lengan Mr. Sinclair masih melilit pinggangnya erat, tangan dingin itu menggantung posesif di pinggul Adrian, seolah memastikan bahwa ia tidak akan hilang.
Adrian memejamkan mata, berharap bisa kembali tidur dan melupakan semuanya. Namun, harapannya pupus ketika ia merasakan gerakan di belakangnya. Tuan Sinclair menggeliat. Pelukannya mengencang, lalu anak muda itu mulai menelusuri leher Adrian dengan ujung hidungnya, mencium dan menjilat kulit Adrian.
Lidah basah itu semakin posesif menelusuri kulit leher Adrian.
Sentuhannya, meskipun ringan, memicu gelombang mual yang hebat. Adrian berusaha menarik napas, menahan rasa jelek yang membuat otot-ototnya sakit. Sentuhan pagi ini terasa jauh lebih menjijikkan daripada penetrasi semalam—ia adalah bukti kepemilikan yang santai. Adrian memaksakan diri untuk tetap kaku, berharap Pak Sinclair akan bosan.
Namun, gerakan itu terhenti saat dering telepon berbunyi, memecah keheningan kamar yang mewah dan mematikan.
Mr Sinclair kesal. Dia melepaskan pelukannya pada Adrian dengan enggan, tubuhnya yang telanjang bergeser di atas mengirimkan sutra.
"Ya?" Suara Mr. Sinclair kembali ke mode bisnis yang dingin dan formal, kontras dengan sentuhan intimnya beberapa detik lalu. Ia berbicara pelan, memberi instruksi singkat. “Masuklah.”
Selesai bicara, Tuan Sinclair mematikan ponselnya dan kembali ke sisi Adrian. Dia menarik Adrian kembali ke pelukannya yang hangat dan menyesakkan. "Tidak perlu khawatir, Sayang. Seseorang hanya datang untuk membersihkan sesuatu," bisik Pak Sinclair di rambut Adrian, suaranya kembali manja.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Adrian merasakan gelombang ketakutan dan rasa malu yang dingin. Pak Sinclair tidak peduli, tapi Adrian akan terbiasa membacanya.
Yang masuk adalah Lisa, bawahan Mr. Sinclair. Lisa berjalan masuk dengan pengaturan rapi, mengabaikan total pemandangan mengerikan di kasur—tuannya telanjang dan Adrian yang tak berdaya di bawah pelukannya. Seolah-olah Adrian hanyalah perabotan yang dipindahkan dari satu sudut ke sudut lain.
Lisa langsung pergi ke kamar mandi, membawa semacam botol penyemprot dan kain pel. Adrian terkejut dan berusaha melepaskan pelukan Mr. Sinclair, mendorong dada muda itu dengan tangan yang gemetar.
"Lepaskan aku," desis Adrian, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. "Itu membidik."
Pak Sinclair hanya menahan Adrian lebih erat, tersenyum ke leher Adrian. "Mereka tahu kita bersama. Tidak ada yang menginginkan kepemilikan. Santai saja."
Adrian menyerah. Tubuhnya sangat lemah. Namun, pikiran berputar cepat. Rasa penasarannya yang dingin mengambil alih rasa malu.
Lisa kembali keluar. Wanita itu bahkan tidak menoleh ke tempat kering. Dia hanya membawa botol kosong yang tadi ia bawa, dan langsung keluar, menutup pintu di belakangnya dengan tenang.
Tunggu. Kamar mandi.
Adrian mengerjap. Itu adalah kamar mandi suite yang sama dengan tempat ia mandi tadi malam. Tuan Sinclair tidak mengunci pintu kamar tadi malam untuk mengingatkannya di kamar tidur. Dia mengunci pintu untuk memastikan Adrian mandi dan menghirup obat penenang itu.
Sial! Adrian mengutuk dalam hati. Dia terlalu sombong. Dia berpikir jebakannya adalah sentuhan fisik atau minuman yang harus diminum. Dia tidak pernah memikirkan racun udara atau kontak kulit, apalagi yang dikeluarkan oleh pelembab udara atau semprotan di kamar mandi. Dia seorang ahli kimia, tetapi kecerobohannya telah menariknya.
Saat memikirkan Adrian sibuk menguraikan detail mengerikan dari jebakan itu, Mr. Sinclair tiba-tiba menggigit daun telinga dengan keras—gigitan yang menyakitkan, bukan lagi sekadar sentuhan intim.
Adrian tersentak, rasa sakit itu menusuk otaknya. Ia ingin menjerit, tetapi mulutnya hanya mengeluarkan desahan napas yang tercekik.
“Ayah,” bisik Pak Sinclair, nada manja itu begitu kental, begitu kekanakan. Suaranya kontras total dengan gigitan kejam tadi. Mr Sinclair menjilat luka kecil di daun telinga Adrian. "Aku menginginkannya lagi."
Tiga kata terakhir itu— Aku menginginkannya lagi —menghantam Adrian lebih keras daripada pukulan memuaskan yang gagal semalam.
Dunia Adrian, yang tadi membeku, kini hancur berkeping-keping dan menyusun kembali dirinya menjadi gambaran yang jauh lebih mengerikan.
Ayah.
Otaknya, meskipun masih dibius, bekerja pada kecepatan yang menakutkan, mencari rekaman memori dari masa lalu yang terkunci rapat. Itu adalah suara manja yang sama, nada permintaan yang bernuansa haus darah yang sama.
Adrian menduga Mr. Sinclair memiliki koneksi dengan masa lalunya. Tapi bukan ini. Tidak mungkin.
****
KILAS BALIK
BOSTON, 2003.
Udara di ruang bawah tanah itu dingin dan berbau klorin, tanah, dan bau besi yang menusuk hidung—darah. Ruangan itu kedap suara, dirancang agar gemuruh siapa pun di dalamnya tidak akan pernah mencapai telinga orang luar.
Di tengah ruangan, di atas meja baja steril, terbaring seekor kucing hitam gemuk. Adrian, yang saat itu berusia 32 tahun, lebih bugar dan matanya lebih tajam, mengenakan sarung tangan bedah. Dia berdiri di sebelah anak kecil laki-laki.
Anak itu, William, baru berusia dua tahun, tetapi matanya sudah memancarkan kecerdasan yang tidak normal, sebuah kehausan yang jauh melampaui usianya.
“Fokus, William,” kata Adrian, suaranya tenang, seperti seorang guru privat yang mengajarkan matematika, bukan seorang guru yang mengajarkan cara mengakhiri hidup. "Bagaimana cara terbaik untuk menghentikan sesuatu? Dengan menembak? Dengan memukul?"
William, yang mengenakan jaket hoodie kebesaran, menggeleng pelan, matanya tidak berkedip menatap kucing yang menahannya. "Itu kotor, Ayah . Menjijikkan."
Adrian tersenyum. Senyum bangga. Ia tahu bahwa ia telah berhasil membangun benih pemikirannya pada jiwa murni ini. Lalu?
“Buang darahnya,” bisik William. "Itu lebih cantik kan."
"Bagus sekali. Sekarang, ambil kloroform itu. Sedikit saja. Teteskan perlahan ke hidungnya. Pastikan ia tidak terkejut, William. Kita menghormati subjek kita dengan memberikan akhir yang tenang."
William mematuhinya, tangannya mantap, tanpa gemetar. Saat kucing itu mulai bertarung sesaat, lalu lemas, ekspresi William tetap datar, hanya ada kilatan rasa ingin tahu yang dingin di matanya.
“Mengapa kita tidak menyentuhnya dengan tangan kita, Ayah ?” tanya William, suaranya tenang.
"Karena kita adalah ilmuwan, William. Kita adalah seniman. Jari kita tidak boleh disentuh oleh kotoran yang bersifat sementara. Kita hanya boleh menyentuh hasil kerja kita. Kita menguasai, bukan mengotori." Adrian mengangkat pisau bedah yang ramping dan perak. "Sekarang, kita melihat bagaimana ia mati. Lihatlah, William. Kematian adalah seni. Ia membuka semua misteri di balik ilusi kehidupan."
Selama dua jam berikutnya, Adrian mengajari William cara kerja sistem saraf, cara mematikan organ vital tanpa menyebabkan pendarahan eksternal yang signifikan. Kucing itu menjadi subjek anatomi, sementara William menyerap setiap instruksi dengan kenyamanan yang menyeramkan.
Dari awal William sama menyatakan, membenci sesuatu yang kotor. Namun sepertinya anaknya ini lebih parah, bahkan tidak menyukai darah. Jadi Adrian hanya mengajarkannya cara membunuh yang harus mengeringkan darah dulu agar tidak menetes.
Ketika pelajaran berakhir, kucing itu hanyalah tumpukan daging dan tulang yang telah dipelajari dengan seksama. William memandang hasil kerja mereka. Keringat dingin membasahi dahi, tetapi tampak sangat puas.
“Bagaimana perasaanmu?” Adrian bertanya, mengawasi muridnya dengan intens.
William menyeka tangannya yang sudah dibersihkan dengan alkohol, lalu menoleh ke Adrian, matanya bersinar karena hasrat yang baru ditemukan.
"Ayah," bisiknya, suaranya bergetar karena kegembiraan yang mengerikan. "Aku menginginkannya lagi."
Adrian tertawa, tawa dingin yang menggelegar di ruang bawah tanah itu. Ia memeluk William, mencium keningnya. "Tentu, Nak. Tentu. Kita akan melakukannya lagi. Kita akan membuat seni yang abadi."
****
KEMBALI KE MASA SEKARANG.
Napas Adrian tercekat. Mr Sinclair yang dia yakini diawal adalah Elias, berubah menjadi William. Anak yang dia ajarkan sendiri cara membunuh.
William.
Putranya. Pria yang telah membunuh Elias, mantan pasangan Adrian, dan kini menyekap serta memperkosa Adrian di kasur ini, adalah William.
Anak yang ia buka cara melihat kematian sebagai seni. Anak yang ia ajar mampu dengan kebrutalan ilmiah.
Aku adalah Ayahnya. Adrian, sang dokter kejam, sang predator, adalah orang yang menciptakan monster ini. Semua ambisi, semua kekejaman, semua kecerdasan dingin yang ada pada Tuan Sinclair, adalah bibit yang ditanam Adrian sendiri. William adalah karya seni terbesarnya yang lepas kendali.
William, yang kini adalah Mr. Sinclair, menggigit telinga Adrian lagi, kali ini lebih lembut, lebih posesif. “Ayah tidak mendengarku,” rengeknya.
Adrian akhirnya menemukan suaranya, meskipun itu hanya berupa bisikan ketidakpercayaan yang tercabik-cabik. William.
"Aku tidak menyukai nama itu," koreksi William. Senyumnya menghilang, matanya menjadi sangat dingin, tetap seperti mata Lisa. "Itu adalah nama yang dikenal dunia. Yang ku mau adalah nama yang hanya Ayah dan aku yang tahu."
William menarik Adrian lebih dekat, napasnya yang sejuk menyentuh kulit Adrian. "Panggil aku Lian, Ayah. Kau pernah memanggilku begitu saat kita berada di ruang bawah tanah itu. Hanya kita yang tahu nama itu."
William menjilat luka kecil di daun telinga Adrian. "Lian kecil, si penerus Ayah... kecepatan itu menakjubkan, Ayah?"
Adrian tertegun. Ingatan itu menghantamnya, menusuk menembus rasa jelek dan kelesuan. Lian kecil . Dia memanggil William begitu setelah William berhasil membunuh dan membedah hewan pertamanya—sebuah momen kebanggaan yang dingin.
“Lian…” bisik Adrian, suaranya mengandung pengakuan yang mematikan.
"Tepat sekali," bisik Lian puas. "Sekarang, Ayah milikku. Milik Lian."
Lian bangkit dan memikirkan badan Adrian, sehingga Lian bisa kembali menatap wajah Adrian. Adrian kembali berada di kungkungan Lian. "Ayah... Ayah tahu apa yang kuinginkan." Cairan lengket di antara kaki Adrian tiba-tiba terasa jauh lebih berat, membawa beban memori dan kepemilikan yang mengerikan. Ia bukan hanya diperkosa; ia sedang disiksa oleh konsekuensi dari dosanya sendiri. Lian tidak hanya menjadikannya tawanan, dia menjadikan Adrian miliknya, memaksanya kembali ke ayah peran-anak yang mereka mainkan di ruang bawah tanah, hanya saja kali ini, Adrian yang menjadi objek penderitaan.
"Tolong, William..." Adrian memohon, suara mantan predator itu kini hanya suara yang remuk.
"Tidak ada kata 'tolong' di sini, Ayah," Lian memotong, nadanya kembali manja namun kejam. Dia menarik Adrian hingga wajah mereka berhadapan. "Hanya ada 'Aku menginginkannya lagi.' Dan Ayah harus memberikannya.
Baik Lian anak pintar, Ayah akan memberikannya. Kalimat itu tidak terucap, namun menggema di kepala Adrian, menghancurkan sisa-sisa perlawanannya. Ia tidak punya hak untuk meminta bantuan. Ia hanya punya kewajiban untuk mematuhi Arsitek yang ia lahirkan.
Lian mencium Adrian. Ciuman itu dingin, menuntut, dan penuh kemenangan. Ini adalah mencium anak yang bangga pada kreasi ayahnya, dan sekarang menikmati kehancuran ayahnya sendiri. Adrian tidak bisa melawan, terhenti di bawah kreasi terbesarnya sendiri.
Hubungan penuh dosa itu kembali dilakukan. Tubuh Adrian masih terasa sakit setelah teringat semalam, namun Lian sama sekali tidak peduli. Adrian hanya bisa menelan yang tertahan, mendapati dirinya kembali menjadi subjek yang tidak berdaya di bawah kendali Arsitek yang telah ia ciptakan sendiri.
***
Next>> https://archivebl.blogspot.com/2026/04/14.html

Comments
Post a Comment