Boston, Massachusetts. Mei 2024.
Adrian menatap pantulan dirinya di dalam wadah air sabun kotor yang ia tumpahkan saat mencuci kain pel. Itu bukan pantulan seorang dokter ahli bedah, bukan pula refleksi seorang seniman yang karyanya pernah dipuja. Itu adalah wajah seorang pria tua yang hanya bekerja kasar untuk mencari nafkah.
Setiap hari yang ia jalani sejak 'masa rehabilitasi' yang tidak masuk akal ini, harga dirinya terkikis habis, jatuh ke dalam septic tank kehinaan yang tak termaafkan. Ia harus memasang keran, memperbaiki pipa bocor, dan—yang terburuk dari semuanya—menanggapi terjadinya remeh dari para penghuni rumah mewah yang menyewa jasanya. Mereka sebagai melihat sampah yang tak punya masa depan, seorang pria yang hanya layak mengurus kotoran. Padahal, tangan yang kini memegang kunci pas itu adalah tangan yang sama yang pernah memegang pisau bedah dengan presisi dewata, tangan yang mampu membedah kehidupan dari kematian.
Kesempatan untuk menunjukkan keahliannya yang sesungguhnya hanya datang dalam bentuk panggilan telepon yang tiba-tiba, selalu dari orang yang sama. Daniel. Panggilan itu adalah bermata dua: memberikan sedikit pembenaran atas kejeniusannya yang terpakai, namun sekaligus mengikatnya lebih erat pada rantai yang dipegang oleh Mr. Sinclair.
Pukul tiga pagi, ponsel murahan Adrian terus berdering. Layarnya menunjukkan nama 'Kontraktor'.
"Ya," jawab Adrian dingin, tanpa basa-basi.
“Dokter Adrian,” suara Daniel terdengar datar, nyaris bosan. "Ada pesanan lagi. Sudah dibayar tunai. Mereka ingin layanan bintang lima."
Adrian menutup matanya. Napasnya terasa berat. Bintang lima. Itu berarti tidak hanya membersihkan noda darah, tetapi juga menghilangkan jejak keberadaan. Itu berarti ia harus turun lagi ke ruang bawah tanah, ke ruang operasi ilegal yang tersembunyi di balik rumah tempat dia tinggal sekarang.
"Berapa kali ini, Daniel?" Adrian bertanya, suaranya sarat kelelahan yang mematikan.
"Sudah kesekian untuk sementara waktu. Tapi kali ini, klien kita punya permintaan yang spesifik. Mereka ingin menyatukan total. Tidak ada bukti. Tidak ada pihak yang berwenang yang boleh mencium bau mayat ini, bahkan bertahun-tahun kemudian."
Malam itu, Adrian kembali ke sarang rahasianya. Dingin dan juga lembap. Aromanya perpaduan antara disinfektan kuat dan bau darah kering. Di tengah ruangan, terbaring mayat baru. Sosok pria paruh baya, berpakaian rapi, namun wajahnya menunjukkan kengerian sebelum ajalnya. Mayat ini adalah mayat kesekian yang harus ia tangani. Ini adalah hal yang paling dia sukai sejak pinjamannya.
Permintaan klien kali ini adalah keahliannya yang paling gelap: seni penyamaran mayat. Bukan sekadar melarutkan tubuh dalam asam atau membakarnya hingga menjadi abu tak dikenal. Adrian memiliki filosofi yang lebih kejam: mengubah horor menjadi keindahan yang sunyi. Ia percaya, bukti terbaik adalah bukti yang dipajang di depan mata, namun disalahartikan sebagai sesuatu yang lain.
Adrian mengenakan jas lab bersih, sarung tangan nitril ganda, dan menyalakan lampu bedah yang tergantung di atas mayat. Begitu cahaya terang menimpa objek di bawah, pria paruh baya biasa digantikan oleh 'Dokter Kematian' yang brilian dan kejam.
“Penghancuran total ya?” Adrian mendekat pada dirinya sendiri, menarik napas panjang, bau formalin mulai merangsang sarafnya. "Itu terlalu membosankan."
Ia mulai bekerja. Ini bukanlah otopsi; ini adalah karya patung yang terbuat dari daging dan tulang. Pertama, ia mengeluarkan semua organ internal—proses yang cepat dan efisien—dan memprosesnya dalam larutan kimia khusus, mengubahnya menjadi pasta organik yang akan dibuang melalui sistem drainase rumah yang sangat jarang dipakai, dijamin tidak akan meninggalkan jejak DNA yang dapat diidentifikasi.
Inti dari karya seninya adalah tubuh itu sendiri. Ia ingin menciptakan ilusi bahwa mayat ini adalah patung perunggu kuno yang rapuh, atau artefak lilin berharga. Dengan bedah dan benang khusus, ia mulai 'menjahit' mayat tersebut dalam posisi janin yang tersembunyi, seolah-olah sedang tidur dalam damai abadi. Ia menghasilkan campuran resin polimer dan formaldehida ke jaringan otot dan pembuluh darah, suatu proses yang ia kembangkan sendiri selama bertahun-tahun. Polimer itu akan membentuk dan mengawetkan tubuh, memberikan tekstur batu yang dingin dan keras, sambil menahannya.
Wajah adalah tantangan terbesarnya. Adrian memanipulasi fitur wajah, mengisi cekungan dengan lilin medis yang dicampur dengan pigmen mineral halus, mengubah ekspresi ketakutan menjadi ketenangan melankolis yang palsu. Ia menutup kelopak mata, menyesuaikan sudut mulut, dan mengikir beberapa bagian tulang pipi agar terlihat lebih halus. Ketika ia selesai dengan anatomi, ia melapisi seluruh tubuh dengan lapisan tipis pernis khusus yang memberikan kesan kusam dan tahan lama, bertahan seperti patung kuno yang baru digali.
Kejeniusannya terletak pada detail. Ia mematahkan beberapa jari secara halus, memberikan kesan kerusakan akibat waktu, bukan kekerasan. Ia mencungkil sedikit gips dari permukaan patung di punggung, membuat ilusi bahwa 'patung' ini sudah rapuh dan rentan, sehingga jika seseorang mencoba memindahkannya, fokusnya adalah pada kerapuhan, bukan pada identitas mayat.
Butuh waktu delapan jam tanpa henti. Ketika ia selesai, yang terbaring di atas meja stainless steel bukanlah mayat, melainkan sebuah karya seni yang dingin, sebuah representasi manusia yang terawetkan dalam kehampaan, seperti spesimen museum yang tak memiliki nama. Bahkan jika pihak berwenang mengizinkan, mereka akan memanggil ahli purbakala, bukan tim forensik. Identitasnya telah hilang, dicuri dan digantikan oleh ilusi keindahan yang menipu. Ini adalah kekejaman tertinggi Adrian: menghilangkan seseorang, bukan hanya dari kehidupan, tetapi juga dari sejarah.
Setelah membersihkan semua sisa peralatan, membuang larutan, dan memastikan ruang bawah tanah itu kembali bersih sempurna, Adrian meninggalkan tempat itu saat fajar menyingsing. Ia kembali menjadi tukang ledeng kotor, membawa tas peralatannya yang berlumuran lumpur buatan. Peran ini adalah penyamarannya yang paling efektif.
Musim terus berganti. Tiga mayat lagi telah ditangani dengan cara serupa. Adrian terus hidup dalam kepura-puraan. Namun, ada perubahan dalam skenario. Pihak yang berwenang yang dulunya sesekali mengawasinya kini sepenuhnya hilang. Seolah-olah mereka menerima bahwa Adrian benar-benar insaf dan hanya seorang buruh rendahan.
Kebebasan ini datang bersama kompensasi dari Mr. Sinclair. Uang tunai dalam jumlah yang tidak masuk akal ditransfer ke rekening barunya, bersamaan dengan tiket kelas satu dan paspor yang sudah terurus. Ia diberi pilihan: liburan ke mana saja di dunia. Ini adalah hadiah, atau lebih tepatnya, tali kekang yang lebih panjang.
***
New York, Amerika Serikat. September 2024.
Saat Adrian baru saja mempertimbangkan untuk pergi ke Mediterania, Daniel menghubunginya lagi. Kali ini bukan untuk bekerja, melainkan untuk memberikan instruksi liburan.
"New York," kata Daniel singkat melalui panggilan video, yang anehnya kali ini menggunakan saluran terenkripsi tingkat tinggi.
Adrian mengerutkan kening. "New York? Aku ingin ke tempat yang hangat."
"Mr. Sinclair merekomendasikan New York. Ada beberapa pameran seni yang mungkin menarik minatmu," jawab Daniel, senyumnya tidak mencapai mata.
Rasa enggan muncul di benak Adrian. Ia ingin menolak, mengatakan ia tidak lagi menerima perintah. Namun, kenangan masa lalu melintas, saat pertama kali ia membersihkan mayat di bawah TVG, ia mendapat kiriman sebuah boneka dengan kunci yang hilang. Itu artinya Tuan Sinclair memiliki banyak tangan yang bisa kapan saja menghancurkan Adrian. Tuan Sinclair tahu segalanya. Dia tahu tentang pembunuhan yang dilakukan Adrian bertahun-tahun yang lalu, dan yang paling penting, dia tahu tentang semua bukti yang ditinggalkan Adrian di ruang bawah tanah rumah lamanya. Bukti yang bahkan pihak berwenang, dengan segala kecanggihan mereka, tidak pernah ditemukan selama bertahun-tahun. Tuan Sinclair memegang nyawanya, reputasinya, dan masa depannya di ujung jari.
Adrian tiba-tiba merasa tersenggol. Rasa penasaran yang selama ini tertidur dalam kemarahannya kini bangkit. Mengapa New York? Mengapa tiba-tiba melibatkan dirinya dalam urusan artistik? Apa yang sedang direncanakan Tuan Sinclair? Ia memutuskan untuk mengikuti alurnya, membiarkan dirinya ditarik ke dalam misteri ini. Jika dia bisa bertahan hidup, mungkin dia akan mendapatkan kesempatan untuk membalas, atau setidaknya, memahami sebenarnya yang menarik tali bonekanya.
Penerbangan berjalan lancar, dan Adrian mendarat di New York yang dingin dan ramai. Ia dijemput oleh mobil hitam mewah yang membawa jauh dari Manhattan, ke sebuah daerah terpencil di utara Negara Bagian New York.
Tujuannya adalah sebuah vila besar yang tersembunyi di balik pagar tinggi dan hutan pinus lebat. Mansion itu terlihat tua dan memiliki arsitektur gaya gotik yang muram. Ini jelas bukan tempat liburan yang biasa.
Saat mobil berhenti di depan gerbang besi tempa, seorang pria berbadan tegap dan bermata dingin menyambutnya. Pria itu memakai jas, tapi posturnya yang kaku dan melengkungnya yang tajam tidak menyerupai seorang penjaga biasa atau pelayan. Dia adalah seseorang yang terbiasa menggunakan kekerasan. Seorang pembunuh bayaran, atau lebih buruk lagi, seorang algojo.
"Dokter Adrian?" tanya pria itu, suaranya seperti gerusan batu.
"Ya."
"Ikut my. Mr. Sinclair tidak ada di sini, tapi ada sesuatu yang harus Anda lihat."
Pria itu memimpin Adrian melewati aula depan yang megah namun kosong, menuruni tangga kayu oak yang berderit, hingga mereka mencapai perpustakaan besar di lantai dasar. Di balik salah satu rak buku antik yang penuh dengan buku-buku berbahasa Latin kuno, pria itu menekan tombol tersembunyi. Rak buku itu bergeser, menampilkan sebuah pintu baja tebal yang tersembunyi.
Di dalamnya, terdapat sebuah ruangan kecil, terlindungi, dengan suhu yang diatur sangat rendah. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu sorot tunggal yang diarahkan ke tengah ruangan.
Di tengah sorotan cahaya itu, di atas meja marmer hitam, tergeletak satu mayat.
"Ini adalah pesanan terakhir yang Anda tangani di sini," kata pria berjas itu tanpa emosi. "Lakukan apa pun yang Anda inginkan. Tidak ada tenggat waktu. Tidak ada instruksi spesifik. Terserah Anda."
Adrian mendekati meja dengan sikap itu, langkahnya melambat. Berbeda dengan mayat-mayat sebelumnya, mayat ini tidak diurus. Bekas darah masih terlihat, dan posisi tubuhnya menunjukkan kematian yang tiba-tiba. Ia mengambil sarung tangan dari saku jasnya dan memasangkannya, tangannya gemetar untuk pertama kalinya sejak ia menjadi 'tukang ledeng'.
Ketika ia semakin dekat dan cahaya lampu sorot menyinari wajah mayat itu, Adrian merasakan jantungnya berhenti berdetak. Seluruh dunia seakan lenyap, dan hanya ada dia dan mayat di ruangan dingin itu.
Rambut putih keperakan. Garis wajah yang tegas dan cerdas. Adrian mengenalinya. Ia tahu wajah ini lebih dari siapa pun. Pria tua ini adalah Elias.
Elias. Peneliti brilian yang ingin mengubah dunia dengan mengendalikan para psikopat. Pria yang bertahun-tahun lalu berhasil membangkitkan insting membunuh yang selama ini tersembunyi di dalam diri Adrian. Pria yang selama ini Adrian yakini sebagai dalang di balik seluruh operasi kotor ini. Dalang yang memanfaatkan kejeniusannya untuk membersihkan jejak kejahatan para elit.
Ini mustahil.
Jika mayat ini adalah Elias, orang yang selama ini ia curigai mengatur segalanya, maka... siapa yang mengatur Elias? Siapakah yang cukup kuat, cukup kejam, dan cukup cerdas untuk membunuh seseorang selevel Elias, dan kemudian menggunakan Adrian—orang yang paling banyak membunuh Elias—untuk membersihkan jejaknya?
Adrian meneliti mayat itu dengan pandangan seorang ahli. Organ-organ internal lainnya tampak utuh. Tidak ada luka tembak yang jelas. Namun, ada detail yang mengerikan. Matanya hilang. Dicuil dengan keahlian yang mengerikan, meninggalkan rongga hitam yang hampa. Itu adalah pesan.
Pria yang baru saja ia yakini sebagai 'raja' di balik semua kebodohan ini, kini terbaring tak berdaya di hadapannya. Mayatnya menjadi bukti nyata bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar, jauh lebih tersembunyi, yang sedang dimainkan.
Jika Elias saja bisa dibunuh dan dijadikan 'mayat pesanan' untuknya, juga seberapa berbahayakah Pak Sinclair? Elias yang ia kenal adalah pria yang manipulatif, ya, tetapi juga sangat berhati-hati dan selalu berada di balik layar. Mayat ini, tanpa mata, seolah berteriak bahwa Elias telah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat, dan itu menghabisinya.
Pikiran itu, bukannya memicu ketakutan, justru memicu adrenalin dan kegembiraan yang lama hilang dalam diri Adrian. Hidupnya selama berbulan-bulan hanya diisi dengan pipa bocor dan sampah, menghancurkan mayat demi orang yang dianggap dalang. Kini, dalangnya dihilangkan, dan ia diperintah oleh dalang yang baru.
Adrian, si 'tukang ledeng' yang rendah diri, tersenyum. Senyumnya lebar dan dingin, senyum Dokter Kematian yang baru menemukan mainan baru.
Tuan Sinclair. Pria yang memegang semua rahasianya, yang kini telah mengorbankan orang yang dulunya adalah 'kunci' miliknya. Pertemuan dengan Mr. Sinclair kini bukan lagi sekadar kewajiban; itu adalah janji temu yang sangat, sangat menarik. Adrian akan datang ke New York. Ia akan membersihkan jenazah Elias, mengubahnya menjadi patung abadi sebagai penghormatan terakhirnya, dan kemudian ia akan mencari tahu. Ia akan mencari tahu siapa yang memegang tongkat estafet kekejaman ini, dan seberapa tinggi ia harus mendaki untuk mencapai puncak rantai makanan yang mengerikan ini.
Malam itu, di ruangan dingin tersebut, Adrian mulai menyiapkan peralatannya. Mayat Elias. Magnum Opus pertama di bawah pengawasan Mr. Sinclair. Adrian tidak pernah merasa sehidup ini. Permainan baru telah dimulai.
***
Comments
Post a Comment