Vila William, New York. Desember 2026.
Pasca insiden gagal jantung yang nyaris merenggut nyawa itu, atmosfer di dalam vila berubah total. Kesunyian yang mencekam kini digantikan oleh rutinitas medis yang membosankan dan steril. William Hayes, sang predator yang biasanya menuntut dan mendominasi dengan kekerasan, tiba-tiba bermetamorfosis menjadi sosok perawat yang paling telaten, sekaligus paling menyebalkan bagi Adrian Vance.
Di dunia luar, William adalah bintang baru. Sebagai pengacara muda yang sedang naik daun, ia dikenal karena otoritas kerjanya yang rapi, terstruktur, dan kemampuannya memuaskan klien di setiap persidangan. Namun di dalam rumah ini, ia hanyalah seorang pria yang terobsesi menjaga "nyawa" mainannya tetap berdetak.
"Minum ini, Ayah. Jangan membantah," ujar William lembut, menyodorkan segelas air dan deretan obat penekan penolakan organ.
Adrian menepis tangan William dengan lemah, namun William tidak membalas dengan amarah. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak lagi mengandung gairah, melainkan rasa kasihan yang merendahkan.
"Kau terlihat sangat menyedihkan saat mencoba melawan, Ayah. Simpan tenagamu. Jantungmu masih sangat baru, jangan membuatnya bekerja keras lagi," bisik William sambil mengusap kening Adrian yang berkeringat.
"Lagian kau benar-benar gila mengambil jantungku," desis Adrian sinis, matanya berkilat meski tubuhnya lunglai. "Kalau kau tahu komplikasi ini akan terjadi, kenapa kau panik, hah?"
"Ini demi kebaikan Ayah. Lian hanya ingin kehidupan kita damai nanti. Ayah jangan marah ya," jawab William tenang, seolah sedang membujuk anak kecil.
'Menjijikkan. Ini benar-benar keturunanku,' batin Adrian kesal. Ia membenci fakta bahwa separuh dari kegilaan di depan matanya ini berasal dari genetiknya sendiri.
Selama berminggu-minggu, William tidak lagi menyentuh Adrian dalam konteks seksual. Tidak ada ciuman paksa, tidak ada borgol, tidak ada penetrasi yang menguras emosi. William hanya duduk di samping ranjang, membacakan berkas hukum atau berita ekonomi, sementara Adrian terbaring diam, terjebak dalam tubuhnya yang semakin pulih namun terasa hampa.
Adrian sering kali diajak keluar menikmati angin pagi di taman dan hutan pinus halaman vila. Rumah mewah itu dilengkapi teknologi tinggi; televisi besar dan robot kecil yang menemani Adrian setiap saat. Kaki Adrian mulai pulih, dan ia menghabiskan waktunya melakukan perawatan fisioterapi agar bisa berjalan normal kembali.
Namun, semua kenyamanan ini justru menciptakan kehampaan yang mengerikan. Lisa, wanita yang menyerupai robot itu, bahkan tidak terlihat selama berhari-hari. Hanya bawahan lain yang datang menjaganya selagi William sibuk memerankan identitas "anak baik" di kantor hukumnya. William memberikan kenyamanan fisik yang luar biasa—makanan organik, kasur empuk, pemandangan indah, namun ia mencabut stimulasi mental yang biasanya didapat Adrian dari konflik mereka.
William memperlakukan Adrian seolah-olah pria itu adalah vas bunga kristal yang mudah retak. Dan Adrian benci itu. Ia benci merasa tidak berdaya, dan ia lebih benci lagi saat William berhenti memandangnya sebagai rival atau objek gairah, dan mulai memandangnya sebagai pasien yang sekarat.
Adrian menghabiskan waktu berjam-jam menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang luas. Ia mengamati garis rahangnya, mencoba mencari jejak kelemahan yang mungkin ditinggalkan oleh operasi jantung itu. Baginya, tubuh ini adalah sebuah mesin, dan William hanyalah mekanik lancang yang mencoba mengambil alih kemudi. Ia merindukan sensasi pisau bedah di tangannya sendiri, ia merindukan aroma darah yang segar di ruang operasi—bukan aroma lavender dan antiseptik mahal yang terus-menerus disemprotkan William di kamarnya.
Keheningan ini adalah bentuk penghinaan. Adrian Vance tidak diciptakan untuk menjadi pajangan. Ia adalah badai itu sendiri. Setiap kali ia melihat William tersenyum saat membawakannya sarapan, Adrian merasa seolah-olah William sedang mencoba menjinakkan seekor singa dengan segenggam rumput. Ia mulai merancang sebuah skenario di kepalanya; bukan tentang bagaimana cara kabur, tapi tentang bagaimana cara memancing William kembali ke dalam kegelapan yang sesungguhnya. Ia butuh William untuk melepaskan topeng 'anak baik' itu, karena hanya dalam kegelapan itulah Adrian bisa menemukan celah untuk kembali berkuasa.
****
Kediaman Dean, Queenstown – Selandia Baru.
Di belahan bumi lain, di sebuah kediaman terpencil yang dikelilingi pegunungan es, Lisa yang di dunia bawah dikenal sebagai Sabit Sang Iblis berdiri di belakang Dean. Pria tua itu sedang sibuk dengan tabletnya, memantau grafik laboratorium yang dikirim dari pusat penelitian rahasia mereka.
"Jadi dia masih hidup setelah insiden jantung itu?" tanya Dean tanpa menoleh.
"Ya."
"Dia memang keponakanku. William... dia sangat hebat, bukan?" Dean terkekeh pelan.
Lisa sudah mengenal Dean cukup lama karena pria itu sering membantu tuannya. Saat ini, Lisa berada di bawah koordinasi Dean untuk urusan William yang berkaitan dengan "Keluarga". Namun, bagi Lisa, tuannya tetaplah satu. Dean hanyalah tetua yang mengatur logistik, sementara William adalah pusat dunianya.
"Apa William melakukan itu?" tanya Dean lagi, nadanya menyiratkan rasa ingin tahu yang gelap.
"Tidak. Tuan sekarang hanya menjaga Tuan Adrian."
"Dengan sifatnya, jelas William ingin memakan makanannya. Hanya saja dia ketakutan karena kejadian gagal jantung itu. Yah, dia memang selalu berpikir jauh ke depan untuk memastikan keinginannya tercapai secara utuh," gumam Dean. Ia kemudian menyerahkan sebuah dokumen penting pada Lisa. "Ancam tuanmu agar tidak main-main. Sial, aku selalu kewalahan dengan sifat posesifnya itu."
Lisa diam, menatap dokumen itu. Tuannya memang terlihat sangat baik di depan publik, namun ia adalah sosok yang Lisa hormati dan kagumi melampaui apa pun. Semakin gila William, semakin besar pula citra William di hati Lisa sebagai 'Malaikatnya'. Bagi Lisa, menjadi bayangan dari seorang William adalah hal yang paling membanggakan. Dean tahu betul bahwa sosok bayangan pun akan semakin gelap jika sang pemilik terlihat lebih terang.
Tiba-tiba ponsel Dean bergetar. Keponakan kesayangannya benar-benar panjang umur karena tiba-tiba menghubunginya.
"Ya, kenapa?" sapa Dean.
"Paman, bagaimana perkembangan obatmu?" suara William terdengar dingin dan langsung pada intinya.
"Yah, ada perkembangan. Kenapa?"
"Tubuhnya mulai menerima organ barunya, tapi aku harus tetap merawatnya dengan dosis yang tepat."
"Oh, kau lapar ternyata?" ledek Dean. "Yah wajar saja, karena ketidaksabaranmu dulu kau hampir kehilangannya. Tapi sampai kapan kau bisa bersabar, huh?"
"Cih, apa yang kau bicarakan, pak tua," balas William ketus.
"Aku tahu kau sudah mulai tidak bisa menahan diri, ya kan? Gairah seorang Vance tidak mudah dipadamkan hanya dengan alasan medis."
William memang lapar. Setiap kali ia menyentuh kulit Adrian untuk mengganti pakaian, tangannya gemetar menahan hasrat. Namun bayangan wajah Adrian yang membiru karena kekurangan oksigen selalu menghantuinya. Ia lebih baik memiliki Adrian yang bosan dan hidup, daripada Adrian yang terpuaskan namun mati di pelukannya.
"Lebih baik kau percepat penelitianmu, pria tua."
"Sial, dasar keponakan gila," umpat Dean saat sambungan terputus.
****
Vila William, New York. Maret 2027.
William telah mengubah vila ini menjadi inkubator raksasa. Adrian merasa otaknya mulai tumpul karena kenyamanan yang dipaksakan ini. Setiap kali kakinya semakin kuat untuk melangkah, ia menyadari bahwa ia hanya sedang dipersiapkan untuk menjadi pajangan yang lebih sempurna.
Hingga tiba di satu titik di bulan Maret, saat badai pertama datang menyapu New York, Adrian memutuskan bahwa ia lebih baik mati dalam konfrontasi daripada hidup sebagai vas bunga yang membusuk di atas meja mahoni William.
Malam itu, hujan badai mengguyur vila dengan amukan yang tidak kenal ampun. Petir menyambar dalam ritme yang tidak teratur, menerangi kamar yang gelap itu dalam kilatan putih yang tajam, seolah-olah langit sedang mencoba membedah rahasia di dalam ruangan itu.
Adrian Vance sudah mencapai batasnya. Keheningan ini lebih menyakitkan daripada pisau bedah yang membelah kulitnya. Saat William hendak berbalik pergi setelah memastikan selimut Adrian terpasang rapi, sebuah tangan yang kini sudah kembali bertenaga mencengkeram pergelangan tangan William dengan sentakan yang tidak terduga.
"Mau ke mana, Lian?" suara Adrian rendah, serak, namun mengandung tantangan yang sudah lama hilang.
William membeku. "Kamu harus istirahat, Ayah. Cuaca sedang buruk, tekanan udara bisa memengaruhi napasmu."
Adrian tertawa sumbang. Ia menarik tangan William, memaksa pria muda itu untuk mencondongkan tubuh lebih dekat hingga napas mereka bersinggungan. "Persetanan dengan napasmu. Aku bosan, Lian. Kau merawatku seolah-olah aku ini mayat yang kau awetkan di dalam toples kaca. Apakah ini caramu membalas dendam? Menjadikanku pajangan yang lemah?"
"Aku menjagamu tetap hidup agar aku bisa memilikimu selamanya, Ayah. Jangan memancingku," desis William, suaranya mulai berat, matanya menggelap di balik cahaya petir.
"Lalu miliki aku sekarang! Atau kau memang selemah itu?" Adrian tersenyum mengejek, sebuah senyuman narsistik yang merobek topeng kesabaran William. "Apa kau takut jika kau menyentuhku, jantung pemberianmu ini akan berhenti? Kau pengecut, William. Kau mencuri organku, tapi kau takut menggunakannya."
William mencoba menarik tangannya, berusaha menjauh dari ranjang untuk mempertahankan sisa rasionalitasnya. Namun, Adrian tidak membiarkannya. Dengan gerakan yang nekat, Adrian memaksa tubuhnya yang belum stabil untuk bangkit. Atrofi otot membuatnya limbung, namun ia menggunakan berat tubuhnya untuk menabrak William.
William, dengan insting pelindung yang posesif, langsung menangkap tubuh Adrian sebelum jatuh ke lantai. Ia memeluk Adrian erat, menahannya agar tidak limbung. "Lihat? Kau bahkan tidak bisa berdiri tegak," ucap William, mencoba membaringkan Adrian kembali.
Namun, Adrian justru tersenyum miring. Ia tidak membiarkan William melepaskan pelukannya. Justru, Adrian merangkul leher William dan menariknya dengan sentakan kuat hingga William jatuh menimpa tubuhnya di atas ranjang yang lembut.
Dalam sekejap, Adrian membalikkan keadaan. Dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan berhari-hari, Adrian mendorong bahu William dan merangkak naik ke atas tubuh pria muda itu. Ia duduk di atas pinggul William, mengunci pergerakan anaknya dengan lututnya yang masih bergetar.
Ini adalah posisi yang selama ini dirampas darinya. Adrian berada di atas. Ia menatap William dari ketinggian, jemarinya yang dingin meraba rahang William, lalu turun ke leher, mencengkeramnya dengan dominasi yang haus.
"Selama ini kau selalu memaksaku, Lian. Menggunakan obat bius, memanfaatkan kelemahanku," Adrian berbisik, wajahnya mendekat hingga bibir mereka hampir bersentuhan. "Sekarang, lihat siapa yang berada di atas. Lihat siapa yang memegang kendali."
Adrian mulai menciumi leher William dengan lapar, memberikan gigitan-gigitan kecil yang provokatif. Ia membuka kancing kemeja William satu per satu dengan jari-jarinya yang gemetar namun tak sabar. Ia ingin menghancurkan dinding kendali diri William. Ia ingin melihat monster itu bangkit karena permintaannya, bukan karena paksaan.
William terengah, tangannya mencengkeram sprei di sisi tubuhnya. "Dad... hentikan... kau akan menyakiti dirimu sendiri..."
"Diam dan nikmati pelajaranku, Lian," geram Adrian. Ia menunduk, mencium William dengan ciuman yang dalam dan menuntut, memasukkan lidahnya dengan ritme yang agresif. Adrian bergerak di atas pinggul William, menggesekkan tubuhnya dengan sengaja, memprovokasi gairah William hingga ke titik didih.
Namun, saat Adrian baru saja hendak melepaskan pakaiannya sendiri, serangan mendadak menghantamnya. Kaki kirinya mendadak kram hebat, otot yang dipaksa bekerja terlalu keras memprotes.
Rasa sakit itu datang seperti sengatan listrik. Adrian mengerang keras, wajahnya memucat pasi. Dominasinya runtuh saat ia jatuh tersungkur di atas dada William, tangannya mencengkeram bahu William dengan kuku yang menusuk kulit.
"Sakit?" tanya William pelan, suaranya kini berubah—lebih dalam, lebih gelap.
William tidak lagi membiarkan Adrian memegang kendali. Ia dengan mudah membalikkan badan Adrian, membaringkannya kembali ke posisi semula dengan tenaga yang tegas. William mulai memijat kaki Adrian yang kram dengan gerakan yang teratur, namun matanya menatap Adrian dengan intensitas yang mengerikan.
"Biar Lian bantu Ayah," bisiknya dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Adrian tersenyum sinis meski keringat dingin mengucur menahan kram. Tangannya naik, dengan sisa tenaganya ia mencekik leher William. Bukan cekikan untuk membunuh, melainkan untuk menantang.
"Kau masih memanggilku Ayah, hah? Menjijikkan. Aku tidak mau disamakan dengan Julian yang sok suci itu. Aku ingin kau sadar bahwa kau sedang meniduri penciptamu. Panggil aku dengan nama yang pantas untuk pria yang membentuk iblis di depan mataku ini!"
"Lalu apa?"
"Apa saja asal aku tidak mau disamakan dengan murid bodohku."
"Dad..." William membisikkan kata itu. Suaranya bukan lagi suara anak kecil yang manja, melainkan suara iblis yang baru saja dilepaskan dari rantainya.
"Yah, Lian... lakukan. Tunjukkan padaku monster yang kubentuk! Hancurkan aku hingga jantung ini lupa bagaimana cara berdetak untuk orang lain!" Adrian menantang dengan tawa narsistik yang pecah di tengah badai.
Sesuatu dalam diri William patah. Rasionalitas yang ia bangun selama berminggu-minggu meledak menjadi serpihan. Jika Adrian ingin permainan yang kotor, William akan memberinya neraka. Ia menjatuhkan diri ke atas tubuh Adrian, menindih pria itu dengan berat badannya yang solid, mengunci setiap ruang gerak Adrian di bawahnya.
"Kau yang memintanya, Daddy. Jangan salahkan aku jika jantungmu kembali berulah karena kau terlalu bersemangat menyambut kematianmu di tanganku," bisik William tepat di depan bibir Adrian.
William mencium Adrian dengan kasar. Ia menggigit bibir bawah Adrian hingga rasa logam dari darah memenuhi mulut mereka. Adrian tidak melawan; ia justru menyambutnya dengan lapar. Ia ingin William benar-benar menjadi monster yang ia ajarkan sejak kecil—monster yang tidak mengenal moralitas Julian, monster yang hanya mengenal obsesi dan kemenangan.
William merobek kemeja tidur Adrian dengan kasar. Tangannya menjelajahi bekas luka operasi di dada Adrian yang masih sensitif. Ia mencium garis luka itu, seolah sedang menyembah mahakaryanya sendiri, sebelum beralih kembali untuk menaklukkan setiap inci pertahanan Adrian.
Suasana kamar menjadi panas membara, menenggelamkan suara guntur di luar. William tidak lagi menggunakan borgol; ia menggunakan berat tubuhnya untuk mengunci Adrian. Saat William mulai memasuki Adrian, rasa sakit yang tumpul bercampur dengan gairah yang eksplosif membuat Adrian mengerang keras, melengkungkan punggungnya. Tubuhnya yang sudah lama pasif kini dipaksa bekerja kembali di puncak aktivitasnya.
"Ah... Lian... lebih... keras... hancurkan aku!" Adrian mendesah, matanya terpejam rapat. Ia merasa hidup kembali. Rasa sakit ini adalah bukti nyata bahwa dia masih bernyawa, bukan sekadar objek medis.
William bergerak dengan ritme yang menghancurkan, penuh dengan frustrasi yang menumpuk. Ia mencengkeram rahang Adrian, memaksa pria itu menatap mata kelamnya. "Lihat aku! Lihat siapa yang memberimu hidup!" William berteriak di tengah gairahnya yang memuncak.
Pertarungan ini berlanjut selama berjam-jam. Adrian mencoba memberikan perlawanan dengan mencengkeram punggung William hingga berdarah, mencoba mempertahankan sisa-sisa dominasinya di tengah badai kenikmatan yang menyiksa.
Di puncak pelepasan mereka, Adrian merasa dunianya berputar hebat. Jantung barunya berdegup kencang, kali ini bukan karena gagal organ, melainkan karena adrenalin murni. Ia tersengal-engal, menyandarkan kepalanya di bahu William saat cairan hangat memenuhi dirinya, menandai kepemilikan William yang absolut.
William memeluk Adrian sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Adrian akan kembali menjadi hantu masa lalu. Keduanya terengah-engah dalam keheningan yang kini tidak lagi hampa, melainkan dipenuhi oleh aroma keringat, darah, dan dosa.
"Kau puas, Daddy?" tanya William sambil mengusap keringat di punggung Adrian dengan nada kemenangan yang posesif.
Adrian tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata, merasakan detak jantungnya yang perlahan kembali normal. Ia bosan dengan keheningan, dan William baru saja memberinya kebisingan yang paling ia butuhkan untuk merasa hidup.
Namun di balik itu semua, Adrian tahu satu hal: William benar-benar telah melampauinya. Sang murid tidak hanya mencuri organnya, tapi juga telah mencuri kendali atas rasa sakit dan nikmatnya sendiri.
William mencium pelipis Adrian, kembali ke persona "Lian" yang posesif. "Sekarang tidurlah. Aku tidak akan membiarkanmu bangun besok jika kau berani memancingku seperti ini lagi tanpa persiapan."
Adrian hanya mendengus lemah, tertidur dalam pelukan monster yang ia ciptakan sendiri. Di luar, badai mulai mereda, meninggalkan vila itu dalam kegelapan yang jauh lebih pekat dan beracun dari sebelumnya.
****
next>>https://archivebl.blogspot.com/2026/05/21.html

Comments
Post a Comment