Skip to main content

Posts

12

  Setelah mandi, Adrian membungkus tubuhnya dengan handuk lembut dan mulai mengeringkan rambut yang mulai memutih dengan kasar. Dia membuka pintu kamar mandi. Pandangannya langsung berbaring ke kasur berukuran  king  di tengah kamar. Di sana, berbaring santai dengan bantal yang disandarkan di punggung, ada sosok lain. Seorang pria. Dia mengenakan kemeja sutra putih yang longgar dan celana tidur yang serasi. Di tangannya, ia memegang sebuah buku tua bersampul kulit. Wajahnya begitu muda—mungkin baru memasuki usia dua puluhan—dengan fitur yang sangat tampan, hampir tidak nyata, dan tanpa cela. Jika dibandingkan dengan Adrian yang kini berusia paruh baya, yang didekorasi oleh lingkaran hitam di bawah mata dan kerutan lelah, pria muda di kasur itu tampak seperti dewa muda yang baru turun ke bumi. Adrian terkejut. Kehadiran yang begitu santai di dalam ruangan adalah suatu pelanggaran batas yang mencolok. Siapa yang berani masuk ke sini tanpa izin? Pria itu pasti bukan salah s...

11

  Adrian berdiri di hadapan sosok Elias, kini bukan lagi jasad, melainkan sebuah ciptaan. Ia telah menghabiskan dua belas jam tanpa istirahat, mengubah Elias menjadi patung lilin kusam yang dibalut ilusi tembaga tua. Mayat itu dibaringkan miring, tangan menutupi rongga mata yang kosong—sebuah sentuhan buatan yang Adrian maksudkan sebagai sindiran, seolah Elias menolak melihat akhir yang menutupinya. Ia menggunakan pigmen perunggu palsu, dicampur dengan debu batu halus, lalu mengoleskan lapisan tipis pernis  matte  yang membuat 'patung' ini terlihat seperti peninggalan era Renaissance yang terlupakan. Permukaan yang retak dan berlumut adalah detail palsu yang ia bubuhkan untuk memperkuat kesan artefak, bukan mayat. Keahlian Adrian bukan sekedar menghapus bukti, melainkan menciptakan narasi baru yang tidak mungkin ditembus oleh ilmu forensik. “Selesai,” gumam Adrian, suaranya serak. Ia menanggalkan sarung tangan yang berlumuran darah dan bahan kimia pengawet. Darah Elias. ...

The Art of Death

  Boston, Massachusetts. Mei 2024. Adrian menatap pantulan dirinya di dalam wadah air sabun kotor yang ia tumpahkan saat mencuci kain pel. Itu bukan pantulan seorang dokter ahli bedah, bukan pula refleksi seorang seniman yang karyanya pernah dipuja. Itu adalah wajah seorang pria tua yang hanya bekerja kasar untuk mencari nafkah. Setiap hari yang ia jalani sejak 'masa rehabilitasi' yang tidak masuk akal ini, harga dirinya terkikis habis, jatuh ke dalam septic tank kehinaan yang tak termaafkan. Ia harus memasang keran, memperbaiki pipa bocor, dan—yang terburuk dari semuanya—menanggapi terjadinya remeh dari para penghuni rumah mewah yang menyewa jasanya. Mereka sebagai melihat sampah yang tak punya masa depan, seorang pria yang hanya layak mengurus kotoran. Padahal, tangan yang kini memegang kunci pas itu adalah tangan yang sama yang pernah memegang pisau bedah dengan presisi dewata, tangan yang mampu membedah kehidupan dari kematian. Kesempatan untuk menunjukkan keahliannya yang ...

The Threatened Variable

   London, Inggris. September 2024 . September membawa musim gugur yang dingin dan kering ke London. Angin berdesir melintasi pepohonan, menerbangkan daun-daun  maple  yang merah, tetapi di kediaman Hayes, suasananya terasa hangat—sehangat kepuasan yang didapat Julian. William telah menyelesaikan penandatanganan kontrak resminya di Pemberton & Shaw. Kini, William adalah  Associate  termuda di departemen Pajak Perusahaan, sebuah pencapaian yang dianggap Julian sebagai  kemenangan total moralitas atas genetik  Adrian. Sebuah hasil akhir dari proyeknya. Malam itu, Julian mengajak William makan malam. Mereka memilih restoran Prancis klasik, yang menjamin privasi dan kemewahan yang sunyi—sebuah  suasana  yang dikontrol penuh. "Kau melihatnya, William?" Julian berkata, nadanya penuh euforia yang tenang, kepuasan seorang ilmuwan yang hipotesisnya terbukti benar. "Kau adalah  Associate  nyata sekarang. Kau sudah memiliki jala...